Kamis, 17 Mei 2012

Model dan Proses dalam Komunikasi Massa


Proses Komunikasi Massa:[1]
1.             Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar.
Jadi proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan dalam skala yang besar, sekali siaran, pemberitaan yang disebarkan dalam jumlah yang luas, dan diterima oleh massa yang besar pula.
2.             Proses komunikasi massa dilakukan melalui satu arah, yaitu dari komunikator ke komunikan.
Kalau terjadi interaktif di antara mereka, maka proses komunikasi (balik) yang disampaikan oleh komunikan ke komunikator sifatnya sangat terbatas, sehingga tetap saja didominasi oleh komunikator.
3.             Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris[2] di antara komunikator dan komunikan, menyebabkan komunikasi diantara mereka berlangsung datar dan bersifat sementara.
Kalau terjadi kondisi emosional disebabkan karena pemberitaan yang sangat agitatif[3], maka sifatnya sementara dan tidak berlangsung lama dan tidak permanen.
4.             Proses komunikasi massa berlangsung impersonal (non pribadi) dan tanpa nama.
Proses ini menjamin, bahwa komunikasi massa akan sulit diidentifikasi siapa penggerak dan menjadi motor dalam sebuah gerakan massa di jalan.
5.             Proses komunikasi massa berlangsung berdasarkan pada hubungan-hubungan kebutuhan (market) di masyarakat.
Misal: televisi dan radio melakukan penyiaran mereka karena adanya kebutuhan masyarakat tentang pemberitaan-pemberitaan massa yang ditunggu-tunggu. Dengan demikian, maka agenda acara televisi dan radio juga sangat ditentukan oleh rating, yaitu bagaimana masyarakat menonton atau mendengar acara itu, apabila tidak ada pendengar atau pemirsanya, maka acara tersebut akan dihentikan karena dianggap merugi dan tidak disponsori oleh pasar.
Dari proses komunikasi tersebut, untuk memudahkan pemahaman para pakar komunikasi membentuk model-model komunikasi sebagai berikut:
Model Komunikasi Massa:
1.             Model C. Shannon dan W. Warren Weaver[4]
·                Decision to Communicate (Keputusan untuk berkomunikasi)
Stimulasi manusia yang muncul dalam pikiran
·                Encoding (Menyandikan)
Pelaksanaan encoding pikiran ke dalam pesan
·                Transmission
Transmisi/pengiriman pesan
·                Reception
Resepsi/penerimaan pesan
·                Decoding
Penguraian pesan oleh penerima ke pikirannya
·                Internalization
Internalisasi pesan oleh penerima
Dalam komunikasi massa, komunikator bukan hanya mengkodekan pesan ke dalam bahasa/bentuk lain tetapi juga pesan itu kemudian dikodekan secara teknologi untuk ditransmisikan melalui media massa.
Dalam radio misalnya, kata-kata dikodekan menjadi sinyal elektronik. Pada mesin penerima—yakni perangkat radio—sinyal itu diuraikan kembali menjadi kata-kata, yang kemudian dikodekan lagi oleh penerima manusia untuk diinternalisasikan.
Dalam media cetak ada dua langkah decoding, yang tidak kentara karena saling terintegrasi. Satunya adalah membaca, satunya lagi mengkonversi representasi menjadi konsep.
2.             Model Harold Lasswell[5]
·                Who (Siapa)
Sumber.
·                Says What (Mengatakan apa)
Pesan.
·                In which channel (Pada saluran yang mana)
Sumber komunikasi.
·                To whom (Kepada siapa)
Penerima.
·                With what effect (Dengan dampak apa)
Pengaruh.
Model Lasswell juga sering diterapkan dalam komunikasi massa karena model tersebut  mengisyaratkan bahwa lebih dari satu saluran yang dapat membawa pesan. Unsur sumber (who) merangsan pertanyaan mengenai pengadilan pesan, sedangkan unsur pesan (says what) merupakan bahan untuk analisis isi. Saluran komunikasi (In Which Channel) dikaji dalam analisis media. Unsur penerima (to whom) dikaitkan dengan analisis khalayak, sementara unsur pengaruh (with what effect) jelas berhubungan dengan studi mengenai akibat yang ditimbulkan oleh komunikasi massa pada khalayak pembaca, pendengar  atau pemirsa.[6] Seperti contoh berikut:
·                Who: Seorang Reporter atau wartawan
·                Says what: Menyampaikan berita dengan mengutip seseorang yang memiliki pengetahuan tentang subjek berita.
·                In which channel: Dalam kasus ini, berita disampaikan lewat koran—sebuah media massa.
·                To whom: Berita disampaikan kepada pembaca koran.
·                With what effect: Pembaca memutuskan untuk memilih calon A atau B (untuk berita terkait tentang pemilihan misalnya), atau mungkin pembaca hanya menambahkan informasi ke dalam pengetahuan yang sudah mereka miliki.





3.             Model Ray Hiebert, Donald Ungurait, dan Thomas Bohn (HUB – Lingkaran Konsentris)[7]

Model HUB adalah model lingkaran konsentris yang bergetar sebagai sebuah rangkaian proses aksi-reaksi.
Model HUB  ini bisa dikatakan lebih komplit, karena model komunikasi massa ini adalah model lingkaran yang dinamis dan berputar terus-menerus.
Komunikator berada di tengah-tengah pusaran air. Artinya, komunikator menyebarkan pesan ke luar.
Dalam penyebaran ide dan gagasan, komunikator dibantu oleh media amplification (pengerasan media). Di sini pengerasan berarti perluasan (extension). Tujuannya adalah agar pesan yang dikeluarkan sejelas dan sekomplit mungkin.


[1] Burhan Bungin. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana. Hal. 74-75.
[2] Asimetris: tidak sama antara kedua belahnya.
[3] Agitatif: Hasutan kepada orang banyak (untuk mengadakan huru hara, pemberontakan, dsb), biasanya dilakukan oleh tokoh atau aktivis partai politik
[4] John Vivian. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana. Cetakan kedelapan.  Hal. 454-455.
[5] John Vivian. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana. Cetakan kedelapan.  Hal. 455-456.
[6] Dedy Mulyana. Pengantar Ilmu Komunikasi.
[7] John Vivian. Teori Komunikasi Massa. Ibid.  Hal. 456-457.

Teori Komunikasi Antarpribadi - Teori Pengurangan Ketidakpastian (Anxienty/Uncertainty Management Theory)

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Dalam komunikasi antarpribadi, banyak orang yang kesulitan dalam memulai, mengembangkan, dan mempertahankan hubungan interpersonal. Sebab, memang tidak mudah melakukan pengembangan hubungan. Sebagaimana mungkin dapat kita lihat, berbagai hubungan kita dengan teman, keluarga, mitra/pasangan, rekan kerja, pemuka agama, dan yang lainnya dipenuhi dengan dinamika yang beragam.
Untuk mempermudah pembaca dalam meningkatkan pengembangan hubungan, pemakalah akan menjelaskan tentang salah satu teori komunikasi antarpribadi yang berfokus pada fenomena tersebut, yakni Anxienty/Uncertainty management Theory (Teori Pengurangan Ketidakpastian).
B.            Rumusan Masalah
1.             Siapa tokoh pencetus Teori Pengurangan Ketidakpastian?
2.             Apa saja asumsi dari Teori Pengurangan Ketidakpastian?
3.             Bagaimana contoh kasus sekaligus pengkajiannya?


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Teori dan Tokoh
Biasa disebut teori interaksi awal (Initial Interaction Theory), yang mengemukakan bahwa ketika dua orang asing bertemu, fokus mereka adalah untuk mengurangi tingkat ketidakpastian/kegelisahan mengenai satu sama lain dalam hubungan mereka.
Teori ini dikemukakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975. Dengan tujuan untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan dalam mengurangi ketidakpastian diantara orang asing yang terlibat dalam pembicaraan satu sama lain untuk pertama kali.
Dalam teori ini Berger dan Calabrese akan memprediksi dan menjelaskan apa saja yang terjadi dalam perjumpaan-perjumpaan awal. Dua hal itulah yang menjadi konsep dalam menyusun dua subproses utama dari pengurangan ketidakpastian:
1.             Prediksi (prediction), merupakan kemampuan untuk memperkirakan pilihan-pilihan perilaku yang mungkin dipilih dari sejumlah kemungkinan pilihan yang ada bagi diri sendiri atau bagi pasangan dalam suatu hubungan.
2.             Penjelasan (Explanation), merupakan usaha untuk menginterpretasikan makana dari tindakan yang dilakukan di masa lalu dalam sebuah hubungan.
Teori ini hampir sama dengan Teori Informasi dari Claude E. Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949, bahwa ketidakpastian ada ketika jumlah alternatif yang mungkin dalam sebuah situasi tinggi dan kemungkinan terjadinya alternatif-alternatif itu relatif setara. Sebaliknya, ketidakpastian menurun ketika alternatif-alternatif yang ada terbatas jumlahnya dan/atau terdapat sebuah alternatif yang biasanya dipilih.
Berger dan Calabrese berpendapat bahwa komunikasi merupakan sarana yang digunakan orang untuk mengurangi ketidakpastian mereka mengenai satu sama lain. Meski demikian, pengurangan ketidakpastian mampu menciptakan kondisi yang sangat baik untuk pengembangan hubungan interpersonal.
Oleh Berger dan Calabrese, teori ini kemudian sedikit diperjelas hingga muncul versi baru dari teori ini yang menjelaskan bahwa terdapat dua tipe ketidakpastian dari perjumpaan awal, yaitu:
1.             Kognitif, merujuk pada keyakinan dan sikap yang kita anut. Oleh karenanya, ketidakpastian kognitif (cognitive uncertainty), merujuk pada tingkat ketidakpastian yang dihubungkan dengan keyakinan dan sikap tersebut.
2.             Ketidakpastian perilaku (behavioral uncertainty), merupakan batasan sampai mana perilaku dapat diprediksi dalam sebuah situasi tertentu.
Argumen lain dari Berger&Calabrese mengenai pengurangan ketidakpastian. Terdapat dua proses dalam pengurangan ketidakpastian, yaitu:
1.             Pengurangan ketidakpastian proaktif, yang terjadi ketika seseorang berpikir mengenai pilihan-pilihan komunikasi sebelum benar-benar melakukannya dengan orang lain.j
2.             Pengurangan ketidakpastian retroaktif, yang terdiri atas usaha-usaha untuk menjelaskan perilaku setelah perjumpaan itu sendiri.
Selain itu Berger&Calabrese juga menyatakan bahwa ketidakpastian berhubungan dengan tujuh konsep lain yang berakar pada komunikasi dan pengembangan hubungan:
1.             Output verbal
2.      Kehangatan nonverbal (mis. Nada suara yang menyenangkan, dan mencondongkan tubuh ke arah depan)
3.             Pencarian informasi (bertanya)
4.             Pembukaan diri
5.             Resiprositas pembukaan diri
6.             Kesamaan
7.             Kesukaan
Tiap konsep itu bekerja sama, hingga partisipan dapat mengurangi sebagian dari ketidakpastian mereka.[1]
  1. Contoh Kasus
Sarah dan Andi mengambil kelas Komunikasi Antarpribadi dan Komunikasi Massa yang sama di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hingga kini mereka belum bicara satu sama lain, meskipun mereka selalu bertemu di kelas setiap hari selasa dan kamis selama tiga buan terakhir. Andi telah mengamati Sarah dan berpikir bahwa Sarah adalah gadis yang menarik. Hari ini, ketika Sarah meninggalkan kelas, ia melihat Andi memandangnya dari sudut ruangan di mana ia duduk dengan teman-temannya. Sarah merasa sedikit tidak nyaman dipandang sedemikian rupa oleh Andi, dan ia bergegas keluar dari ruangan kelas.
Sayangnya, teman Sarah, Luna, menghentikannya di depan pintu dengan sebuah pertanyaan mengenai tugas untuk minggu depan, sehingga Sarah dan Andi mencapai lorong pada waktu yang bersamaan. Terdapat keheningan sesaat yang membuat rikuh ketika mereka tersenyum dengan ragu terhadap satu sama lain. Andi mendehem dan berkata, “Hai. Hari ini pelajarannya cukup menarik, bukan?” Sarah mengangkat bahunya, tersenyum kembali, dan menjawab, “Saya tidak yakin mengerti apa yang diajarkan di dalam kelas itu. Saya mengambil jurusan Sastra, dan kelas ini hanyalah kelas pilihan untuk saya.” Andi tersenyum dan berkata, “Saya cukup gembira semenjak memutuskan untuk mengambil jurusan komunikasi. Tetapi mungkin saya akan memiliki reaksi yang sama denganmu jika saya berada di kelas Sastra! Saya bahkan mungkin tidak dapat memahami hal yang sangat sederhana di sana.” Keduanya tertawa untuk beberapa saat. Kemudian Sarah berkata, “Saya harus pergi. Sampai ketemu lagi.” Dan ia terburu-buru melintasi lorong.
Andi berjalan ke kelas berikutnya dengan bertanya-tanya apakah mereka akan berbicara lagi, apakah Sarah sedang merendahkan pilihan jurusannya, Apakah Sarah berpikir ia telah berkata tidak sopan mengenai jurusan pilihan Sarah, apakah Sarah menyukainya, apakah ia menyukai Sarah, atau apakah Andi peduli dengan semua itu.[2]
C.           Asumsi Teori Pengurangan Ketidakpastian
1.             Orang mengalami ketidakpastian dalam latar personal.
Ketika seseorang bertemu orang lain yang baru mereka kenal, mereka cenderung merasakan ketidakpastian atau bahkan cemas. Sebagaimana dikatakan Berger&Calabrese (1975), “Ketika orang tidak mampu untuk memahami lingkungannya, mereka biasanya menjadi cemas.”
Pertimbangan kecemasan Andi ketika bertemu Sarah sebagai contoh. Ia mengalami ketidakpstian setelah bertemu Sarah, seorang teman sekelas yang membuatnya tertarik. Meskipun banyak tanda-tanda disekitar yang membantu Andi untuk memahami interaksinya dengan Sarah, terdapat juga faktor yang menyulitkan. Contohnya, Andi mungkin melihat ketegasan Sarah saat meninggalkan kelas. Terdapat beberapa alternatif penjelasan untuk perilaku ini, misalnya Sarah masih menghadapi kelas lain yang jaraknya cukup jauh, suatu dugaan yang cukup umum mengenai ketegasan seseorang, atau ia harus pergi ke kamar kecil, merasa cemas dan membutuhkan udara segar, ingin menghindari bertemu Andi di pintu, dan sebagainya. Dengan adanya alternatif ini, sangat mungkin bahwa Andi (atau orang lain dalam situasinya) merasa tidak pasti bagaimana menginterpretasikan perilaku Sarah.
2.             Ketidakpastian merupakan keadaan yang tidak mengenakkan.
Hal ini sama seperti yang biasanya dirasakan orang ketika berada di lingkungan kerja yang baru, mereka sering kali mengalami stres jenis ini. Sehingga, untuk berada di dalam ketidakpastian membutuhkan energi emosional dan psikologis yang tidak sedikit.
3.             Ketika orang asing bertemu, perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka, atau meningkatkan prediktabilitas.
Untuk mengurangi ketidakpastian orang akan mencari informasi dengan mengajukan pertanyaan yang bertujuan untuk memperoleh prekdibilitas.
Misalnya, politikus yang sering kali bertanya ketika abertemu dengan konstituennya. Mereka mengahabiskan waktu dengan para pemberi suara di distrik mereka dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui kebutuhan mereka.
4.             Komunikasi interpersonal adalah sebuah proses perkembangan yang terjadi melalui tahapan-tahapan.
Terdapat tiga tahapan dalam komunikasi interpersonal: (1) fase awal (entry phase): tahap awal interaksi antara orang asing, seperti membalas sapaan ketika orang mengatakan, “Hai! Apa kabar?”; (2) fase personal: tahap di mana partisipan mulai berkomunikasi dengan lebih spontan dan membuka lebih banyak informasi pribadinya. Fase ini dapat terjadi dalam perjumpaan awal, tetapi biasanya lebih banyak terjadi setelah dilakukan beberapa interaksi; (3) fase akhir (exit phase), tahap di mana individu membuat keputusan, apakah interaksi dalam suatu hubungan tersebut dilajut atau dihentikan.
5.             Komunikasi interpersonal adalah alat yang utama untuk mengurangi ketidakpastian.
Karena dalam komunikasi interpersonal mensyaratkan beberapa kondisi, yaitu kemampuan mendengar, tanda respons nonverbal, dan bahasa yang sama. Jika hal tersebut tidak terpenuhi, maka akan mempengaruhi proses pengurangan ketidakpastian serta pengembangan hubungan.[3]
C.           Strategi untuk Mengurangi Ketidakpastian
Asumsi umum yang digunakan di sini adalah bahwa komunikasi merupakan proses bertahan (gradual) dimana orang salinh mengurangi ketidakpastian tentang yang lain. Dengan tiap-tiap interaksi anda semakin mengenal pihak lain dan secara berangsur-angsur mulai mengenal orang itu pada tingkat yang lebih bermakna. Charles Berger dan James Bradac mengidentifikasi tiga strategi utama untuk mengurangi ketidakpastian yaitu strategi pasif, aktif dan interaktif.
1.             Strategi Pasif
Bila kita mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati, kita menerapkan strategi pasif. Yang paling bermanfaat dalam observasi pasif ini adalah mengamati seseorang dalam tugas aktif tertentu, misalnya dalam interaksinya dengan orang lain dalam situasi sosial informal.
2.             Strategi Aktif
Bila anda secara aktif mencari informasi tentang seseorang dengan cara apapun selain berinteraksi dengan orang itu, anda menerapkan strategi aktif. Sebagai contoh, anda dapat bertanya kepada orang lain tentang orang itu. Kita juga memanipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga kita dapat mengamati seseorang secara lebih spesifik dan jelas. Wawancara lamaran pekerjaan, menonton teater, atau mengajar mahasiswa merupakan contoh-contoh cara dimana orang memanipulasi situasi untuk melihat bagaimana seseorang mungkin beraksi dan bereaksi.
3.             Strategi Interaktif
Bila kita sendiri berinteraksi dengan seseorang, kita menerapkan strategi interaktif. Sebagai contoh, kita dapat mengajukan pertanyaan (“Apakah anda senag berolahraga?” “Bagaimana pendapat anda mengenai mata kuliah ilmu komputer itu?” “Apa yang akan anda lakukan jika dipecat?”)
Kita juga mendapatkan pengetahuan tentang orang lain dengan mengungkapkan informasi tentang diri kita sendiri. Pengungkapan diri menciptakan lingkungan yang santai yang mendorong pengungkapan dan orang yang ingin lebih kita kenal.
Ketiga strategi ini bermanfaat untuk mengurangi ketidakpastian. Sayangnya banyak orang merasa bahwa mereka sudah cukup mengenal seseorang setelah menerapkan hanya strategi pasif. Strategi aktif lebih bersifat mengungkapkan, dan strategi interaktif lebih banyak lagi mengungkapkan. Menerapkan ketiga macam strategi ini akan membuat persepsi anda seakurat mungkin.[4]


DAFTAR PUSTAKA

West, Richard, dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Devito, Josep A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Profesional Book.



[1] Richard West , dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika. Hal. 173-176.
[2] Richard West , dan Lynn H. Turner. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Hal. 173.
[3] Richard West , dan Lynn H. Turner. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Hal. 176-179.
[4] Devito, Josep A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Profesional Book. Hal. 84-85.

Ucapan dan Perbuatan Nabi sebagai Model Komunikasi Persuasif


BAB I
PENDAHULUAN

Islam adalah agama dakwah. Islam disebarluaskan dan diperkenalkan kepada umat manusia melalui aktivitas dakwah, tidak melalui kekerasan, pemaksaan, atau kekuatan senjata. Islam tidak membenarkan pemeluk-pemeluknya melakukan pemaksaan terhadap umat manusia, agar mereka mau memeluk agama islam. Setidak-tidaknya ada dua alasan, mengapa islam tidak membenarkan alasan tersebut; (1) Islam adalah agama yang benar dan ajaran-ajaran islam sama sekali benar dan dapat diuji kebenarannya secara ilmah, (2) Masuknya iman ke dalam kalbu setiap manusia merupakan hidayah Allah SWT, tidak ada seorang pun yang mampu dan berhak memberi hidayah ke dalam kalbu manusia kecuali Allah SWT.
Islam menganut suatu paham bahwa manusia itu pada dasarnya adalah bersih (fitrah) seperti kertas putih, namun akan berubah menjadi buruk apabila dipengaruhi oleh lingkungannya yang buruk pula, dengan demikian manusia itu mempunyai potensi yang sama besarnya untuk berbuat kotor atau berbuat bersih tergantung dominasi rangsangan yang diterimanya.
Atas dasar pemikiran inilah, pemakalah akan menjelaskan tentang ucapan dan perbuatan Nabi sebagai model komunikasi persuasif. Guna memberikan pemahaman dalam berkomunikasi terkait dengan cara menyerukan ajakan pada kebaikan. Pengertian ini pemakalah ambil dari hadis Nabi yang diperkuat juga oleh Firman Allah SWT.


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.[1]
Dalam islam sendiri komunikasi persuasif lebih dikenal dengan sebutan dakwah, yakni suatu aktivitas yang mendorong manusia memeluk agama islam melalui cara yang bijaksana dengan materi ajaran islam agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan umat nanti (akhirat).[2]
B.           Teknik Komunikasi Persuasif
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, komunikasi persuasif bertujuan untuk mengubah sikap, pandapat, atau perilaku dengan akibat yang dihasilkan ialah kesadaran, kerelaan disertai perasaan senang. Berikut teknik dalam komunikasi persuasif:[3]
1.             Perencanaan komunikasi persuasif
Agar komunikasi tersebut mencapai tujuan dan sasarannya, maka perlu dilakukan perencanaan yang matang. Perencanaan yang dimaksud ialah dalam pengelolaan pesan. Dengan tahapannya:
·                Harus sudah jelas siapa yang menjadi sasaran komunikan
·                Jika menggunakan media, maka diperkirakan media apa yang tepat untuk digunakan.
·                Menata/mengelolah pesan, di mana pesan tersebut harus sudah jelas isinya dan sesuai dengan diri komunikan sebagai sasaran.
Sehubungan dengan perencanaan pesan dalam proses komunikasi persuasif, berikut adalah teknik-teknik yang dapat dipilih:
a.              Teknik asosiasi
Ialah penyajian pesan komunikasi dengan cara menumpangkannya pada suatu objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak. Teknik ini sering dilakukan oleh kalangan bisnis atau kalangan politik.
Misalnya, ketika Rudy Hartono dan Liem Seiw King berada dipuncak ketenarannya, maka produser film langsung memintanya untuk berperan dalam film. Bagi produser tidak peduli, apakah Rudy dan King bisa main atau tidak; yang penting permunculannya, yang diperkirakan akan menghasilkan uang banyak.
b.             Teknik integrasi
Ialah kemampuan komunikator untuk menyatukan diri secara komunikatif dengan komunikan. Ini berarti bahwa, melalui kata-kata verbal atau nonverbal, komunikator menggambarkan bahwa ia “senasib”—dan karena itu menjadi satu—dengan komunikan.
Teknik ini biasa digunakan oleh redaktur surat kabar dalam menyusun tajuk rencana. Di situ selalu dikatakan “kita”, bukan “kami”, yang berarti pemikiran yang dituangkan ke dalam tajuk rencana bukan hanya pemikiran redaksi saja, melainkan juga pendapat para pembaca.
c.              Teknik ganjaran
Ialah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengiming-ngiming hal yang menguntungkan atau yang menjajikan harapan. Di mana berdaya upaya untuk menumbuhkan kegairahan emosional.
d.             Teknik tataan
Ialah upaya menyusun pesan komunikasi sedemikian rupa, sehingga enak didengar atau dibaca serta termotivasikan untuk melakukan sebagaimana disarankan oleh pesan tersebut.
Teknik ini digunakan hanya untuk memperindah pesan agar menarik, dan tidak mengubah bentuk yang dimaksudkan hanya agar  komunikan lebih tertarik hatinya. Komunikator sama sekali tidak membuat fakta pesan menjadi cacat. Faktanya sendiri tetap utuh, tidak diubah, tidak ditambah, dan tidak dikurangi.
e.              Teknik red-herring
Ialah seni seorang komunikator untuk meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakkan argumentasi yang lemah untuk kemudian mengalihkannya sedikit demi sedikit ke aspek yang dikuasainya guna dijadikan senjata ampuh dalam menyerang lawan. Hingga sebelumnya diperlukan persiapan dengan matang.
2.             Pentahapan komunikasi persuasif.
Demi berhasilnya komunikasi persuasif perlu dilaksanakan secara sistematis. Terdapat suatu formula yang disebut AIDDA yang dapat dijadikan landasan pelaksanaan yang merupakan kesatuan singkatan dari tahap-tahap komunikasi persuasif.
A – Attention – Perhatian
I – Interest – Minat
D – Desire – Hasrat
D – Decision – Keputusan
A – Action – Kegiatan
Berdasarkan formula AIDDA itu, komunikasi persuasif didahului dengan upaya membangkitkan perhatian. Upaya ini tidak hanya dilakukan dalam gaya bicara dengan kata-kata yang merangsang, tetapi juga dalam penampilan ketika menghadapi khalayak.
Apabila perhatian sudah berhasil terbangkitkan, kita menyusul upaya menumbuhkan minat. Upaya ini bisa berhasil dengan mengutarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan komunikan. Karena itu komunikator harus mengenal siapa komunikan yang dihadapinya.
Tahap berikutnya adalah memunculkan hasrat pada komunikasi untuk melakukan ajakan, bujukan, atau rayuan komunikator. Di sini seni menata pesan harus dilakukan dengan sedemikian rupa oleh komunikator, hingga pada tahap berikutnya komunikan bisa mengambil keputusan untuk melakukan suatu kegiatan sebagaimana diharapkan daripadanya.
C.           Hadis Terkait
Diawali dengan firman Allah SWT yang menjelaskan tentang dakwah, yakni sebagai berikut:
“Dan hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan umat yang mengajak pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf, dan mencegah orang dari kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)[4]
Dalam ayat tersebut terkandung pelajaran penting yang bertalian dengan kewajiban berdakwah, yakni umat islam diperintahkan berdakwah, mengajak orang pada kebajikan/kebaikan. Pengertian kebajikan/kebaikan dalam ayat tersebut dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih yang artinya sebagai berikut:
“Abu Ja’far Al-Baqira berkata: ‘bahwa setelah Rasulullah SAW membaca: Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak pada kebajikan. Kemudian beliau bersabda: Kebajikan/kebaikan itu, kepatuhan mengikuti Al-Qur’an dan Sunnahku.[5]
Dari ayat tersebut, kemudian Nabi mengajarkan bagaimana cara berdakwah yang baik dan benar sesuai dengan hadis sebagai berikut:
“Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW tatkala beliau mengutus Mu’adz r.a. ke Yaman, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kamu akan mendatangi masyarakat ahli kitab: maka hendaklah yang pertama kali ajaran yang kau serukan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah. Lalu jika mereka sudah mengenal Allah, lalu beritahukan kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan shalat kepada mereka lima kali tiap sehari-semalam; lalu, apabila mereka sudah mengerjakannya, maka beri tahukan mereka, bahwa Allah mewajibkan pada mereka membayar zakat hartanya, dan zakat itu diberikan kepada orang-orang fakir miskin di antara mereka. Kemudian, apabila mereka sudah mematuhinya, maka terimalah dari mereka, berhati-hatilah, jangan sampai kamu mengambil harta kesayangan mereka.”
Dalam hadis tersebut terkandung beberapa pelajaran penting terkait dengan dakwah/komunikasi persuasif, yaitu:[6]
1.             Dakwah itu disampaikan secara bertahap dan memerlukan konsepsi yang matang, sesuai dengan petunjuk Allah dan tuntunan Rasul-Nya.
2.             Materi dakwah dan pengajaran pokok yang disampaikan adalah keimanan.
Setelah orang itu sudah mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka cara yang ditempuh adalah menuntun mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ini sesuai dengan perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan dalam hadis:

“Dari Ibnu Umar r.a. (beliau berkata): Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersaksi: Bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah, sehingga mereka menegakkan shalat, dan membayar zakat. Apabila mereka sudah mengerjakan itu, maka sudah memelihara dari saya darah dan hartanya, kecuali karena hak islam, dan perhitungan amal mereka terserah kepada Allah’.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).[7]
3.             Setelah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, barulah mereka diberitahukan konsekuensi syahadat itu.
Allah mewajibkan ibadah shalat lima waktu setiap sehari-semalam. Kesadaran menuanaikan ibadah shalat itu menjadi bukti pertama kebenaran iman mereka kepada Allah SWT.
4.             Tahap berikutnya pemberitahuan kepada mereka yang sudah beriman dan menunaikan ibadah shalat itu, bahwa Allah mewajibkan membayar zakat harta bagi yang memenuhi zakat itu.
Kesadaran membayar zakat itu salah satu bentuk rasa tanggung jawab sosial, dan itu menjadi bukti kebenaran iman dan kekhusyu’an shalat seseorang, jika tidak maka sebagai pertanda bahwa iman masih dibibir dan shalatnya belum menjiwai dirinya.
5.             Dalam hadis tersebut terkandung suatu pengertian, bahwa para mubaligh tidak boleh memaksa masyarakat untuk segera beriman dan menunaikan ibadah shalat serta membayar zakat.
Mereka perlu diberi kesempatan untuk merenungkannya, agar masyarakat tidak merasa terpaksa mengerjakan itu semua karena takut. Islam melarang kita memaksa orang untuk masuk islam. Dasar dari pengertian ini terdapat dalam firman Allah surat Al-Baqarah: 256, sebagai berikut:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[8] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 256)
Terlepas dari dakwah, ucapan nabi untuk mengajak kita menuju hal yang benar dapat dilihat dari hadits tentang perintah memerangi manusia yang tidak melakukan sholat dan mengeluarkan zakat sebagai berikut:
عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال " أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة , فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله تعالى
“Dari Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : ‘Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barang siapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta'ala’".
Hadits ini amat berharga dan termasuk salah satu prinsip Islam. Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah bersabda: “Sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menghadap kepada kiblat kita, memakan sembelihan kita dan melaksanakan shalat kita. Jika mereka melakukan hal itu, maka darah mereka dan harta mereka haram kita sentuh kecuali karena hak. Bagi mereka hak sebagaimana yang diperoleh kaum muslim dan mereka memikul kewajiban sebagaimana yang menjadi kewajiban kaum muslimin.”
Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah disebutkan sabda beliau:

“Sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan beriman kepadaku dan apa yang aku bawa.” Hal ini sesuai dengan kandungan hadits riwayat Umar di atas”.
Tentang maksud hadits ini para ulama mengartikannya berdasarkan sejarah, yaitu tatkala Rasulullah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq diangkat sebagai khalifah untuk menggantikannya, sebagian dari orang Arab menjadi kafir. Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi ‘Umar berkata kepadanya: “Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah dan Rasulullah bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah ... dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta’ala”. Abu Bakar lalu menjawab : “Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat kebendaan”. Lalu katanya: “Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat kepada Rasulullah niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu.” Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum tersebut.
Kalimat "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, dan barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah”. Khatabi dan lain-lain bekata : “Yang dimaksud oleh Hadits ini ialah kaum penyembah berhala dan kaum Musyrik Arab serta orang yang tidak beriman, bukan golongan Ahli kitab dan mereka yang mengakui keesaan Allah”. Untuk terpeliharanya orang-orang semacam itu tidak cukup dengan mengucapkan laa ilaaha illallaah saja, karena sebelumnya mereka sudah mengatakan kalimat tersebut semasa masih sebagai orang kafir dan hal itu sudah menjadi keimanannya. Tersebut juga di dalam hadits lain kalimat “dan sesungguhnya aku adalah Rasul Allah, mereka melaksanakan shalat, dan mengeluarkan zakat.”
Syaikh Muhyidin An Nawawi berkata: “Di samping mengucapkan hal semacam ini ia juga harus mengimani semua ajaran yang dibawa Rasulullah seperti tersebut pada riwayat lain dari Abu Hurairah, yaitu kalimat, “Sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, beriman kepadaku dan apa saja yang aku bawa”
Kalimat, “Dan perhitungannya terserah kepada Allah” maksudnya ialah tentang hal-hal yang mereka rahasiakan atau mereka sembunyikan, bukan meninggalkan perbuatan-perbuatan lahiriah yang wajib. Demikian disebutkan oleh khathabi. Khathabi berkata: “Orang yang secara lahiriah menyatakan keislamannya, sedang hatinya menyimpan kekafiran, secara formal keislamannya diterima” ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Imam Malik berkata: “Tobat orang yang secara lahiriah menyatakan keislaman tetapi menyimpan kekafiran dalam hatinya (zindiq) tidak diterima” ini juga merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad.
Kalimat, “Aku diperintah memerangi manusia sampai mereka bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah dan mereka beriman kepadaku dan apa yang aku bawa” menjadi alasan yang tegas dari mazhab salaf bahwa manusia apabila meyakini islam dengan sungguh-sungguh tanpa sedikitpun keraguan, maka hal itu sudah cukup bagi dirinya. Dia tidak perlu mempelajari berbagai dalil ahli ilmu kalam dan mengenal Allah dengan dalil-dalil semacam itu. Hal ini berbeda dengan mereka yang berpendapat bahwa orang tersebut wajib mempelajari dalil-dalil semacam itu dan dijadikannya sebagai syarat masuk Islam. Pendapat ini jelas sekali kesalahannya, sebab yang dimaksud oleh hadits diatas, adanya keyakinan yang sungguh-sungguh dalam diri seseorang. Hal ini sudah dapat terpenuhi tanpa harus mempelajari dalil-dalil semacam itu, sebab Rasulullah mencukupkan dengan mempercayai ajaran apa saja yang beliau bawa tanpa mensyaratkan mengetahui dalil-dalilnya. Didalam hal ini terdapat beberapa hadits shahih yang jumlah sanadnya mencapai derajat mutawatir dan bernilai pengetahuan yang pasti.



[1] http://muhammadmiftahulhuda.blogspot.com/2011/11/pesan-pesan-persuasif.html
[2] Masyhur Amin.1997. Dakwah Islam dan Pesan Moral. Yogyakarta: Amin Press. Hal. 10.
[3] Onong Uchjana Effendy. 1986. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal. 21-25.
[4] Departemen Agama. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya Juz 1-30. Surabaya: Danakarya.
[5] Abu Bakar Muhammad.1997. Hadis Tarbawi. Surabaya: Karya Abditama. Hal. 49-50.
[6] Abu Bakar Muhammad.1997. Hadis Tarbawi. Surabaya: Karya Abditama. Hal. 75-76.
[7] Zainuddin Hamidy, dkk. 1953. Terjemah Shahihul Bukhari. Jakarta: Wijaya. Hal. 30.
[8] Thaghut ialah syaitan dan apasaja yang disembah selain dari Allah SWT.


DAFTAR PUSTAKA

http://muhammadmiftahulhuda.blogspot.com/2011/11/pesan-pesan-persuasif.html
Amin, Masyhur. 1997. Dakwah Islam dan Pesan Moral. Yogyakarta: Amin Press.
Departemen Agama. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya Juz 1-30. Surabaya: Danakarya.
Muhammad, Abu Bakar. 1997. Hadis Tarbawi. Surabaya: Karya Abditama.
Hamidy, Zainuddin, dkk. 1953. Terjemah Shahihul Bukhari. Jakarta: Wijaya.
Effendy, Onong Uchjana.1986. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.