Kamis, 20 Oktober 2011

PENGARUH BUDAYA CHINA DAN INDIA YANG MEMBENTUK BUDAYA INDONESIA

A.           Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan letaknya sangat strategis, yaitu terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Indonesia dan Pasifik) yang merupakan daerah persimpangan lalu lintas perdagangan dunia. Awal abad Masehi, jalur perdagangan tidak lagi melewati jalur darat (jalur sutera) tetapi beralih kejalur laut, sehingga secara tidak langsung perdagangan antara Cina dan India melewati selat Malaka. Untuk itu Indonesia ikut berperan aktif dalam perdagangan tersebut.
Akibat hubungan dagang tersebut, maka terjadilah kontak/hubungan antara Indonesia dengan India, dan Indonesia dengan Cina. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab masuknya budaya India ataupun budaya Cina ke Indonesia.
B.            Pengaruh Non Fisik
Agama Hindu dan Budha
Mengenai siapa yang membawa atau menyebarkan agama Hindu - Budha ke Indonesia, tidak dapat diketahui secara pasti, walaupun demikian para ahli memberikan pendapat tentang proses masuknya agama Hindu - Budha atau kebudayaan India ke Indonesia.
Untuk agama Budha diduga adanya misi penyiar agama Budha yang disebut dengan Dharmaduta, dan diperkirakan abad 2 Masehi agama Budha masuk ke Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca Budha yang terbuat dari perunggu diberbagai daerah di Indonesia antara lain Sempag - Sulsel, Jember - Jatim, Bukit Siguntang - Sumsel. Dilihat ciri-cirinya, arca tersebut berasal dari langgam Amarawati - India Selatan dari abad 2 - 5 Masehi. Dan di samping itu juga ditemukan arca perunggu berlanggam Gandhara - India Utara di Kota Bangun, Kutai – Kaltim.
Untuk penyiaran Agama Hindu ke Indonesia, terdapat beberapa pendapat/hipotesa, antara lain:
1.             Hipotesis Waisya, diutarakan oleh Dr.N.J.Krom, berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang yang datang untuk berdagang ke Indonesia, bahkan diduga ada yang menetap karena menikah dengan orang Indonesia.
2.             Hipotesis Ksatria, diutarakan oleh Prof. Dr. Ir. J. L. Moens berpendapat bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia adalah kaum ksatria atau golongan prajurit, karena adanya kekacauan politik/peperangan di India abad 4-5 M, maka prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke Indonesia, bahkan diduga mendirikan kerajaan di Indonesia.
3.             Hipotesis Brahmana, diutarakan oleh J. C. Vanleur berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana karena hanyalah kaum Brahmana yang berhak mempelajari dan mengerti isi kitab suci Weda. Kedatangan Kaum Brahmana tersebut diduga karena undangan Penguasa/Kepala Suku di Indonesia atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu ke Indonesia.
Pada dasarnya ketiga teori tersebut memiliki kelemahan yaitu karena golongan ksatria dan waisya tidak mengusai bahasa Sansekerta. Sedangkan bahasa Sansekerta adalah bahasa sastra tertinggi yang dipakai dalam kitab suci Weda. Dan golongan Brahmana walaupun menguasai bahasa Sansekerta tetapi menurut kepercayaan Hindu kolot tidak boleh menyebrangi laut.
Dari kebenaran maupun kelemahan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa, masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana yang tidak kolot atas undangan raja dan orang Indonesia yang belajar ke India.
Dengan adanya penyebaran agama Hindu tersebut maka mendorong orang-orang Indonesia untuk menambah ilmunya mempelajari agama Hindu di India sekaligus berziarah ke tempat- tempat suci. Dan sekembalinya dari India tersebut, maka orang-orang tersebut dapat menyebarkan agama Hindu dengan bahasa mereka sendiri, dengan demikian agama Hindu lebih cepat dan mudah tersebar di Indonesia.
Konsep Raja dan Kerajaan
Sebelum kebudayaan India masuk, Indonesia belum mengenal konsep raja dan kerajaan. Di Indonesia baru mengenal konsep kesukuan. Masyarakat masih terpecah-pecah dalam bentuk suku-suku yang kecil, artinya wilayah yang dikuasai oleh setiap suku masih sangat terbatas. Dan setiap suku tersebut dipimpin oleh seorang kepala suku atau primus interpares. Seorang kepala suku dipilih berdasarkan kekuatan fidik dan kekuatan magis yang dimilikinya.
Setelah kebudayaan India masuk, konsep raja dan kerajaan mulai dikenal. Hal ini dapat ditelusuri dari munculnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Menurut para pakar sejarah, kerajaan Kutai pada awalnya setingkat suku yang dipimpin oleh kepala suku. Kepala suku dalam hal ini adalah Kudungga yang diperkirakan masih merupakan nama asli Indonesia. Kutai mulai tampak menjadi sebuah kerajaan sejak pemerintahan raja Asmawarman. Jadi kebudayaan India cukup berperan dalam lahirnya konsep raja dan kerajaan di Indonesia.
Bahasa
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang di adaptasi dari bahasa-bahasa yang lain, salah satunya ialah bahasa melayu. Dan siapa yang tahu, bahwa ternyata bahasa melayu sendiri bukanlah bahasa yang murni melainkan juga diadaptasi oleh bahasa yang lain, salah satunya adalah bahasa china. Kata melayu itu sendiri ditemukan pertama kali dalam berita China. Hal ini menyatakan bahwa berita itu sendiri menggunakan aksara China yang mengisyaratan hubungan yang sudah lama antara bangsa China dan bangsa melayu. Dari sini, bisa dikatakan bahwa secara tidak langsung bahasa Indonesia sedikit banyak di adaptasi dari bahasa china.

C.           Pengaruh Fisik
Seni Bangunan
Wujud akulturasi seni bangunan terlihat pada bangunan candi, salah
satu contohnya adalah Candi Borobudur yang merupakan perpaduan
kebudayaan Buddha yang berupa patung dan stupa dengan kebudayaan
asli Indonesia, yakni punden berundak.
Ada yang membedakan antara candi dari India dan Indonesia. Yakni dari fungsinya, di India candi berfungsi sebagai tempat pemakaman, sedang di Indonesia sebagai tempat pemujaan.
Diperkirakan para seniman Indonesia hanya menggunakan berbagai teori dalam kitab Silpasastra (buku petunjuk untuk membuat arca dan bangunan) untuk membuat suatu bangunan. Sedang untuk gaya rambut dan bentuk patungnya di adaptas dari budaya China.
Batik
Pengaruh budaya China pada kehidupan di bumi Nusantara telah dirasakan sejak abad ke-13 dan semakin berkembang hingga orang-orang China mulai membuat batik pada awal abad ke-19. Pengaruh China pada zaman tersebut memengaruhi corak dan ragam motif batik yang melahirkan perpaduan karya seni batik oriental dan Nusantara yang sangat indah.
Akulturasi budaya sejak ratusan tahun lalu dan terus berkembang sampai saat ini makin terasa seiring semakin dibukanya peluang masyarakat etnis Tionghoa untuk mengekspresikan budayanya.
Orang-orang China yang saat itu mendirikan permukiman-permukiman, terutama di badar-bandar penting di Pulau Jawa, seperti Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Lasem, dan Tuban, berbaur dengan penduduk asli. Mereka bahkan ada yang melakukan perkawinan budaya dan melahirkan keturunan yang disebut "peranakan".
Uniknya, etnis China di Nusantara tetap membawa serta adat istiadat, agama, dan budaya tanah leluhur mereka dengan diselaraskan dengan budaya setempat. Banyak etnis China yang akhirnya berpakaian dengan mengikuti cara berpakaian penduduk setempat. Para wanitanya mengenakan sarung batik, sedangkan prianya memakai celana dari bahan batik. Hal itulah yang menyebabkan munculnya kreasi batik-batik dengan ragam hias yang berasal dari budaya China.
Batik China adalah jenis batik yang dibuat oleh orang-orang China atau peranakan yang pada mulanya menampilkan pola-pola dengan ragan hias satwa mitos China, seperti naga, siang, burung phoenix (burung hong), kura-kura, kilin (anjing berkepala singa), serta dewa dan dewi Konghucu. Ada pula ragam hias yang berasal dari keramik China kuno serta ragam hias berbentuk mega dengan warna merah atau merah dan biru.
Kepandaian orang-orang China berdagang serta keuletan dalam berusaha akhirnya membuat mereka dapat menempatkan batik sebagai mata dagangan ekspor. Mereka dapat dikatakan merupakan lingkungan pertama yang mengembangkan batik sebagai kebutuhan busana dan gaya berpakaian serta pola-pola batik di lingkungan mereka sehingga lahirlah apa yang disebut batik China.
Selain sebagai bahan busana, sebagian besar batik yang mereka hasilkan digunakan sebagai perlengkapan keagamaan, seperti kain altar (tok-wi) dan taplak meja (muk-li). Sarung-sarung batik yang mereka hasilkan berupa batik-batik dengan pola yang bentuknya sangat mirip dengan pola tekstil ataupun hiasan pada keramik China, seperti banji yang melambangkan kebahagian ataupun kelelawar yang melambangkan nasib baik.
Pada perkembangannya, batik China menampakkan pola-pola yang lebih beragam, antara lain pola-pola dengan pengaruh ragam hias batik keratin. Meski demikian, batik China yang dibuat mereka tetap mengandung nilai filosofis China. Hal itu sesuai dengan paham yang dianut orang China bahwa usia menentukan apa yang dipakai.
Kini batik China masih meninggalkan jejaknya di dunia perbatikan Indonesia dan terkenal dengan karya batik yang merupakan adikarya batik Indonesia. Batik sendiri tetap milik bangsa Indonesia. Apa yang terjadi dalam perkembangan batik itu hanya terpengaruh seni dan budayanya saja, tetapi yang membatik juga bangsa-bangsa kita. Jadi, meskipun motif-motif batik China telah berkembang di Indonesia, di negara China sendiri tidak ada batik tulis atau cap yang dibuat seperti di Indonesia.
Seni Rupa dan Seni Ukir
Akulturasi dalam bidang seni rupa, dan seni ukir terlihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding candi.
Sebagai contoh: relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur bukan hanya menggambarkan riwayat sang budha tetapi juga terdapat relief yang menggambarkan lingkungan alam Indonesia. Terdapat pula relief yang menggambarkan bentuk perahu bercadik yang menggambarkan kegiatan nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu.
Seni Hias
Unsur-unsur India tampak pada hiasan-hiasan yang ada di Indonesia meskipun dapat dikatakan secara keseluruhan hiasan tersebut merupakan hiasan khas Indonesia.
Contoh hiasan : gelang, cincin, manik-manik.
Aksara/tulisan
Berdasarkan bukti-bukti tertulis yang terdapat pada prasasti-prasasti(abad 5 M) tampak bahwa bangsa Indonesia telah mengenal huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Huruf Pallawa yang telah di-Indonesiakan dikenal dengan nama huruf Kawi. Sejak prasasti Dinoyo (760 M) maka huruf Kawi ini menjadi huruf yang dipakai di Indonesia dan bahasa Sansekerta tidak dipakai lagi dalam prasasti tetapi yang dipakai bahasa Kawi.Prasasti Dinoyo berhubungan erat dengan Candi Badut yang ada di Malang.
Kesusastraan
Setelah kebudayaan tulis seni sastrapun mulai berkembang dengan pesat.
Seni sastra berbentuk prosa dan tembang (puisi). Tembang jawa kuno umumnya disebut kakawin. Irama kakawin didasarkan pada irama dari India.
Berdasarkan isinya, kesusastraan tersebut terdiri atas kitab keagamaan (tutur/pitutur), kitab hukum, kitab wiracarita (kepahlawanan) serta kitab cerita lainnya yang bertutur mengenai masalah keagamaan atau kesusilaan serta uraian sejarah, seperti Negarakertagama.
Bentuk wiracarita ternyata sangat terkenal di Indonesia, terutama kisah Ramayana dan Mahabarata. Kisah India itu kemudian digubah oleh para pujangga Indonesia, seperti Baratayudha yang digubah oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Berkembangnya karya sastra, terutama yang bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana, telah melahirkan seni pertunjukan wayang kulit(wayang purwa).
Pertunjukkan wayang banyak mengandung nilai yang bersifat mendidik. Cerita dalam pertunjukkan wayang berasal dari India, tetapi wayangnya sendiri asli Indonesia. Bahkan muncul pula tokoh-tokoh pewayangan yang khas Indonesia seperti tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Tokoh-tokoh ini tidak ditemukan di India.


D.           Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwasanya begitu banyak budaya di negara kita yang mendapatkan pengaruh dari luar, baik itu fisik maupun non fisik. Namun meski demikian, budaya asli Indonesia sendiri mailah terasa saat kental. Karena, kita mengadatasi budaya luar tidaklah secara keseluruhan, kita masih menyesuaikannya degan budaya atau kebiasaan sehari-hari dari budaya indonesia sendiri.
E.            Daftar Pustaka
http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1707

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar