Senin, 29 Juli 2013

Identitas Budaya


A.           Pengertian Identitas Budaya
Secara etimologis, kata identitas berasal dari kata Identity, yang berarti:
1.             Kondisi atau kenyataan tentang sesuatu yang sama, suatu keadaan yang mirip satu sama lain.
2.             Kondisi atau fakta yang menggambarkan sesuatu yang sama di antara dua orang atau dua benda.
3.             Kondisi atau fakta yang menggambarkan sesuatu yang sama di antara dua orang (individualitas) atau dua kelompok atau benda.
4.             Pada tataran teknis, pengertian etimologis di atas hanya sekedar menunjukkan tentang suatu kebiasaan untuk memahami identitas dengan kata ‘identik’, misalnya menyatakan sesuatu itu mirip satu dengan yang lain.
Kita kini tidak bicara pada tataran teknis, tetapi pada tataran hubungan antarmanusia dan hubungan sosial di mana konsep identitas ternyata lebih kompleks. Karena itu, pada tataran hubungan antarmanusia mungkin lebih tepat yang kita maksudkan bukan sekedar istilah identik, melainkan identitas yang berarti:
1.             Membuat sesuatu menjadi identik atau sama, misalnya mempertimbangkan sesuatu itu sama artinya dengan melihat peluang (mengidentifikasi satu minat dibandingkan minat yang lain).
2.             Mengakui keberadaan sesuatu yang dilihat, diketahui, digambarkan, atau yang kita klaim, apakah dia manusia atau benda (mengidentifikasi sebuah spesimen biologis).
3.             Menghubungkan, atau membuat sesuatu menjadi lebih dekat (mengidentifikasi pikiran madzhab yang mempengaruhi dia).
4.             Kaum psikoanalisis menggunakan istilah identify untuk menerangkan rincian aspek-aspek psikologis yang dimiliki seseorang dan membandingkannya dengan aspek-aspek psikologis yang dimiliki orang lain.
5.             Meletakkan seseorang ke dalam tempat orang lain, sekurang-kurangnya meletakkan atau mempertukarkan pikiran, perasaan, masalah, dan rasa simpatik (empati).
Pengertian identitas pada tataran hubungan antarmanusia akan mengantarkan kita untuk memahami sesuatu yang lebih konseptual, yakni tentang bagaimana meletakkan seseorang ke dalam tempat orang lain (komunikasi yang empatik), atau sekurang-kurangnya meletakkan atau berbagi (to share) pikiran, perasaan, masalah, dan rasa simpatik (empati) dalam sebuah proses komunikasi antarbudaya. Pada tataran inilah, identitas harus dipahami sebagai cara mengidentifikasi (melalui pemahaman terhadap identitas) atau merinci sesuatu yang dilihat, didengar, diketahui, atau yang digambarkan, termasuk mengidentifikasi sebuah spesimen biologis (merinci ciri atau karakteristik fisik), bahkan mengidentifikasi pikiran seseorang dengan mahdzab yang mempengaruhi, merinci aspek-aspek psikologis.
B.            Identitas Budaya dan Peran
Kebanyakan orang – dengan cara yang amat sederhana – menunjukkan identitas ornag lain berdasarkan peran mereka dalam suatu masyarakat. Dalam ranah sosiologi, peran diartikan sebagai satu set harapan budaya terhadap sebuah posisi tertentu. Kita akan mengatakan si A sebagai seorang Bos jika dia menampilkan ‘identitas’ diri, kepribadian, serta perilaku verbal dan nonverbal sebagaimana layaknya seorang Bos.
Terdapat pembedaan yang tegas antara hubungan peran sebagai sebuah identitas dengan struktur kebudayaan dan struktur sosial. Karena itu, kita harus jeli membedakan antara peran yang diharapkan sebagai bagian dari struktur budaya suatu masyarakat dengan tampilan peran yang merupakan bagian dari struktur sosial suatu masyarakat. Yang dimaksud dengan struktur budaya adalah pola-pola persepsi, berpikir dan perasaan, sednagkan struktur sosial adalah pola-pola perilaku sosial. Dalam kehidupan manusia dapat digambarkan seperti berikut:
Struktur budaya à pola persepsi, berpikir, perasaan à identitas budaya
Struktur sosial à pola-pola perilaku sosial à identitas sosial
Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa identitas itu ditentukan oleh struktur budaya maupun struktur sosial.
MEMAHAMI IDENTITAS BUDAYA KESEHARIAN
Dalam pengertian sederhana yang kita maksudkan dengan identitas budaya adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok ornag yang kita ketahui batas-batasnya tatkala dibandingkan dnegan karekteristik atau ciri-ciri orang lain.
Kenneth Burke mengatakan bahwa menentukn identitas budaya itu sangat tergantung pada bahasa, sebagaimana representasi bahasa menjelaskan semua kenyataan atas semua identitas yang dirinci kemudian dibandingkan. Lisa Orr juga menegaskan bahwa untuk mengetahui identitas ornag lain – pada awal berkomunikasi – merupakan pertanyaan yang paling sulit, apa;agi kalau berkeinginan mengetahui kebudayaan otentik dari orang itu. Mengenal identitas seseorang tidak bisa hanya dengan sepotong-potng karena identitas budaya merupakan cultural totalization.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jika kita bicara identitas maka kita hanya bicara tentang karakteristik tertentu dan karakteristik itu merupakan penunjuk untuk mengenal kelompok lain sehingga memudahkan kita berkomunikasi dengan mereka. Sebaliknya, jika kita bicara tentang pola budaya maka yang kita tekankan adalah bagaimana sebuah identitas itu terbentuk dari pandangan dan gagasan tertentu yang pada giliranya membimbing mereka. Sehingga identitas itu bersifat statis, dan pola budaya merupakan sesuatu yang hidup.
PEMBENTUKAN IDENTITAS BUDAYA
Identitas kebudayaan kita dikembangkan melalui proses yang meliputi beberapa tahap:
1.             Identitas budaya yang tak disengaja
Pada tahap ini, identitas budaya terbentuk secara tidak disengaja atau tidak disadari. Anda terpengaruh oleh budaya dominan hanya karena Anda merasa budaya milik Anda kurang akomodatif, sehingga Anda ikut-ikutan membentuk identitas baru.
2.             Pencarian Identitas Budaya
Pencarian identitas budaya meliputi sebuah proses penanjakan, bertanya,d an uji coba atas sebuah identitas lain, di mana Anda terus mencari dan belajar tentang itu dengan melakukan penelitian mendalam, bertanya pada keluarga atau teman, atau bahkan melacaknya secara ilmiah.
3.             Identitas Budaya yang Diperoleh
Yaitu bentuk identitas yang dirincikan oleh kejelasan dan keyakinan terhadap penerimaan diri aAnda melalui interaksi kebudayaan sehingga membentuk identitas Anda.
4.             Konformitas: Internalisasi
Proses pembentukan juga identitas dapat diperoleh melalui internalisasi yang membentuk konformitas. Jadi, proses internalisasi berfungsi untuk membuat norma-norma yang Anda miliki menjadi sama dengan norma-norma yang dominan, atau membuat norma yang Anda miliki berasimilasi ke dalam kultur dominan.
5.             Resistensi dan Separatisme
Adalah pembentukan identitas sebuah kultur dari sebuah komunitas tertentu sebagai suatu komunitas yang berperilaku eksklusif untuk menolak norma-norma kultur dominan.
6.             Integrasi
Pembentukan dengan cara seseorang atau sekelompok orang mengembangkan identitas baru yang merupakan hasil integrasi pelbagai budaya dari komunitas ata masyarakat asal.
JENIS IDENTITAS
Secara umum kita katakan bahwa jenis identitas terbagi menjadi identitas sosial dan kultural, sebagaimana yang dibahas oleh Martin dan Nakayama, meliputi:
1.             Gender versus Seks: Gender
Pembicaraan tentang identitas gender akan berkaitan dnegan embedaan peran perempuan dan laki-laki dalam pandangan kultur maupun sosial. Sebaliknya, kalau kita bicara tentang identitas seks maka kita hanya akan berbicara tentang perbedaan fungsi-fungsi biologis manusia berdasarkan jenis kelamin.
2.             Pembentukan Makna Rasial
Cara pandang baru untuk mengidentifikasi ras lebih sebagai “complex of sosial meaning” untuk menunjukkan manakah kategori ras (identitas) yang asli dan ras keturunan.
3.             Bounded vs. Dominant Identities
Adalah konsep yang menujukkan persepsi tentang kekhasan sekelompok orang dengan perilaku tertentu meskipun kelompok itu bukan merupakan kelompok dominan.
4.             Kelompok ‘Whiteness’?
Dominasi ras berkulit putih yang membedakan dirinya dengan ras lain.
5.             Multirasialitas/Multikulturalitas
Di dasarkan pada sikap manusia terhadap perbedaan budaya itu sendiri. Di mana individu dapat menjadi makelar dari kebudayaan dan menjadi fasilitator antarbudaya.
IDENTITAS SOSIAL-BUDAYA DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Sekurang-kurangnya ada dua akibat identitas sosial-budaya, yakni terciptanya kategori sosial dan stratifikasi sosial. Kategori sosial adalah kategori suatu masyarakat berdasarkan identitas-identitas sosial tertentu yang diduga dapat menampilkan pola komunikasi antarbudaya tertentu pula. Sedang stratifikasi sosial berkaitan dengan cara pandang masyaraat teradap lapisan-lapisan sosial yang terbentuk karena adanya perbedaan dominasi dalam relasi antarkelompok. Kategorisasi sosial budaya itu sendiri dapat dirinci sebagai berikut:
1.             Wilayah, Desa, dan Kota
Yakni pembedaan pola-pola komunikasi antar ornag desa dan kota berdasarkan identitas kehidupan, apakah kosmopolitan, ritualisasi, pemeliharaan budaya, dan konsep tentang relasi antarmanusia.
2.             Etnosentrisme
Bahwa setiap kelompok, etnik, atau ras mempunyai semangat atau ideologi yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok enik atau ras lain.
3.             Stereotip
Evaluasi atau penilaian yang kita berikan kepada seseorang secara negatif, memiliki sifat-sifat ynag negatif hanya karena keanggotaan orang itu pada kelompok tertentu.
4.             Prasangka
Sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi atau generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan sebagai perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif yang ditujukan kepada suatu kelompok buday ayang didasarkan pada sedikit pengalaman atau nbahkan tanpa pengalaman sama sekali.
5.             Diskriminasi
Perilaku yang dihasilkan oleh stereotip atau prasangka, lalu ditunjukkan pada sikap yang terbuka atau rencana tertutup untuk menyingkirkan, menjahui, atau membuka jarak, baik bersifat fisik maupun sosial dengan kelompok-kelompok tertentu.
6.             Rasisme
Transformasi prasangka antarras dan atau etnosentrisme melalui uji coba penerapan kekuasaan dari suatu kelompok ras sehingga menjadi suatu ras lebih inferior daripada ras lain.
7.             Overcoming Cultural Biases
Merupakan konsep uantuk menjelaskan bias atau melencengnya usaha-usaha untuk mengatasi masalah-masalah relasi antarbudaya.
8.             Kontak Antarbudaya
Kontak budaya terjadi dalam proses komunikasi antarpribadi yang dilakukan secara kebetulan atau yang tidak direncanakan terlebih dahulu.
9.             Dominasi, dan Subordinasi Antarkelompok
Kategorisasi kelompok terjadi baik secara vertikal maupun horizontal, yang mana natinya akan sangat menentukan kekuasaan, pengaruh, dan dominasi.
10.         Sikap di Kalangan Anggota budaya
Identitas budaya mempengaruhi sikap di antara anggota budaya sendiri yang kadang-kadang bermanfaat manakala pertahanan identitas itu sangat kuat sehingga menumbuhkan sikap solidaritas, kohesivitas, dan kekompakkan di antara para anggotanya.
11.         Identitas Budaya dan Kompetensi Antarbudaya
Bagaimanapun juga, identitas budaya sangat berpengaruh terhadap kemampuan komunikasi antarbudaya. Di mana kemampuan orang berdasarkan kategorisasi, strata sosial, pola kepercayaan, pola pikir, dll akan berbeda satu sama lain berdasarkan kebudayaan terntu.
12.         Bahasa dan Komunikasi
Bahasa selalu berubah sepanjang waktu seirig kehidupan manusia yang menjadi penuturnya. Sepanjang itu pula bahasa menjadi konstruksi yang menentukan identitas manusia.
13.         Regionalisasi dan Komunikasi Antarbudaya
Identitas budaya juga dapat dikategorikan berdasarkan regional atau wilayah kepulauan. Semua perpisahan itu tidak hanya berdampak pada pembagian geografis, tetapi juga pada penegasan identitas budaya terutama pola komunikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar