Kamis, 17 Mei 2012

Teori Komunikasi Antarpribadi - Teori Pengurangan Ketidakpastian (Anxienty/Uncertainty Management Theory)

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Dalam komunikasi antarpribadi, banyak orang yang kesulitan dalam memulai, mengembangkan, dan mempertahankan hubungan interpersonal. Sebab, memang tidak mudah melakukan pengembangan hubungan. Sebagaimana mungkin dapat kita lihat, berbagai hubungan kita dengan teman, keluarga, mitra/pasangan, rekan kerja, pemuka agama, dan yang lainnya dipenuhi dengan dinamika yang beragam.
Untuk mempermudah pembaca dalam meningkatkan pengembangan hubungan, pemakalah akan menjelaskan tentang salah satu teori komunikasi antarpribadi yang berfokus pada fenomena tersebut, yakni Anxienty/Uncertainty management Theory (Teori Pengurangan Ketidakpastian).
B.            Rumusan Masalah
1.             Siapa tokoh pencetus Teori Pengurangan Ketidakpastian?
2.             Apa saja asumsi dari Teori Pengurangan Ketidakpastian?
3.             Bagaimana contoh kasus sekaligus pengkajiannya?


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Teori dan Tokoh
Biasa disebut teori interaksi awal (Initial Interaction Theory), yang mengemukakan bahwa ketika dua orang asing bertemu, fokus mereka adalah untuk mengurangi tingkat ketidakpastian/kegelisahan mengenai satu sama lain dalam hubungan mereka.
Teori ini dikemukakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975. Dengan tujuan untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan dalam mengurangi ketidakpastian diantara orang asing yang terlibat dalam pembicaraan satu sama lain untuk pertama kali.
Dalam teori ini Berger dan Calabrese akan memprediksi dan menjelaskan apa saja yang terjadi dalam perjumpaan-perjumpaan awal. Dua hal itulah yang menjadi konsep dalam menyusun dua subproses utama dari pengurangan ketidakpastian:
1.             Prediksi (prediction), merupakan kemampuan untuk memperkirakan pilihan-pilihan perilaku yang mungkin dipilih dari sejumlah kemungkinan pilihan yang ada bagi diri sendiri atau bagi pasangan dalam suatu hubungan.
2.             Penjelasan (Explanation), merupakan usaha untuk menginterpretasikan makana dari tindakan yang dilakukan di masa lalu dalam sebuah hubungan.
Teori ini hampir sama dengan Teori Informasi dari Claude E. Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949, bahwa ketidakpastian ada ketika jumlah alternatif yang mungkin dalam sebuah situasi tinggi dan kemungkinan terjadinya alternatif-alternatif itu relatif setara. Sebaliknya, ketidakpastian menurun ketika alternatif-alternatif yang ada terbatas jumlahnya dan/atau terdapat sebuah alternatif yang biasanya dipilih.
Berger dan Calabrese berpendapat bahwa komunikasi merupakan sarana yang digunakan orang untuk mengurangi ketidakpastian mereka mengenai satu sama lain. Meski demikian, pengurangan ketidakpastian mampu menciptakan kondisi yang sangat baik untuk pengembangan hubungan interpersonal.
Oleh Berger dan Calabrese, teori ini kemudian sedikit diperjelas hingga muncul versi baru dari teori ini yang menjelaskan bahwa terdapat dua tipe ketidakpastian dari perjumpaan awal, yaitu:
1.             Kognitif, merujuk pada keyakinan dan sikap yang kita anut. Oleh karenanya, ketidakpastian kognitif (cognitive uncertainty), merujuk pada tingkat ketidakpastian yang dihubungkan dengan keyakinan dan sikap tersebut.
2.             Ketidakpastian perilaku (behavioral uncertainty), merupakan batasan sampai mana perilaku dapat diprediksi dalam sebuah situasi tertentu.
Argumen lain dari Berger&Calabrese mengenai pengurangan ketidakpastian. Terdapat dua proses dalam pengurangan ketidakpastian, yaitu:
1.             Pengurangan ketidakpastian proaktif, yang terjadi ketika seseorang berpikir mengenai pilihan-pilihan komunikasi sebelum benar-benar melakukannya dengan orang lain.j
2.             Pengurangan ketidakpastian retroaktif, yang terdiri atas usaha-usaha untuk menjelaskan perilaku setelah perjumpaan itu sendiri.
Selain itu Berger&Calabrese juga menyatakan bahwa ketidakpastian berhubungan dengan tujuh konsep lain yang berakar pada komunikasi dan pengembangan hubungan:
1.             Output verbal
2.      Kehangatan nonverbal (mis. Nada suara yang menyenangkan, dan mencondongkan tubuh ke arah depan)
3.             Pencarian informasi (bertanya)
4.             Pembukaan diri
5.             Resiprositas pembukaan diri
6.             Kesamaan
7.             Kesukaan
Tiap konsep itu bekerja sama, hingga partisipan dapat mengurangi sebagian dari ketidakpastian mereka.[1]
  1. Contoh Kasus
Sarah dan Andi mengambil kelas Komunikasi Antarpribadi dan Komunikasi Massa yang sama di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hingga kini mereka belum bicara satu sama lain, meskipun mereka selalu bertemu di kelas setiap hari selasa dan kamis selama tiga buan terakhir. Andi telah mengamati Sarah dan berpikir bahwa Sarah adalah gadis yang menarik. Hari ini, ketika Sarah meninggalkan kelas, ia melihat Andi memandangnya dari sudut ruangan di mana ia duduk dengan teman-temannya. Sarah merasa sedikit tidak nyaman dipandang sedemikian rupa oleh Andi, dan ia bergegas keluar dari ruangan kelas.
Sayangnya, teman Sarah, Luna, menghentikannya di depan pintu dengan sebuah pertanyaan mengenai tugas untuk minggu depan, sehingga Sarah dan Andi mencapai lorong pada waktu yang bersamaan. Terdapat keheningan sesaat yang membuat rikuh ketika mereka tersenyum dengan ragu terhadap satu sama lain. Andi mendehem dan berkata, “Hai. Hari ini pelajarannya cukup menarik, bukan?” Sarah mengangkat bahunya, tersenyum kembali, dan menjawab, “Saya tidak yakin mengerti apa yang diajarkan di dalam kelas itu. Saya mengambil jurusan Sastra, dan kelas ini hanyalah kelas pilihan untuk saya.” Andi tersenyum dan berkata, “Saya cukup gembira semenjak memutuskan untuk mengambil jurusan komunikasi. Tetapi mungkin saya akan memiliki reaksi yang sama denganmu jika saya berada di kelas Sastra! Saya bahkan mungkin tidak dapat memahami hal yang sangat sederhana di sana.” Keduanya tertawa untuk beberapa saat. Kemudian Sarah berkata, “Saya harus pergi. Sampai ketemu lagi.” Dan ia terburu-buru melintasi lorong.
Andi berjalan ke kelas berikutnya dengan bertanya-tanya apakah mereka akan berbicara lagi, apakah Sarah sedang merendahkan pilihan jurusannya, Apakah Sarah berpikir ia telah berkata tidak sopan mengenai jurusan pilihan Sarah, apakah Sarah menyukainya, apakah ia menyukai Sarah, atau apakah Andi peduli dengan semua itu.[2]
C.           Asumsi Teori Pengurangan Ketidakpastian
1.             Orang mengalami ketidakpastian dalam latar personal.
Ketika seseorang bertemu orang lain yang baru mereka kenal, mereka cenderung merasakan ketidakpastian atau bahkan cemas. Sebagaimana dikatakan Berger&Calabrese (1975), “Ketika orang tidak mampu untuk memahami lingkungannya, mereka biasanya menjadi cemas.”
Pertimbangan kecemasan Andi ketika bertemu Sarah sebagai contoh. Ia mengalami ketidakpstian setelah bertemu Sarah, seorang teman sekelas yang membuatnya tertarik. Meskipun banyak tanda-tanda disekitar yang membantu Andi untuk memahami interaksinya dengan Sarah, terdapat juga faktor yang menyulitkan. Contohnya, Andi mungkin melihat ketegasan Sarah saat meninggalkan kelas. Terdapat beberapa alternatif penjelasan untuk perilaku ini, misalnya Sarah masih menghadapi kelas lain yang jaraknya cukup jauh, suatu dugaan yang cukup umum mengenai ketegasan seseorang, atau ia harus pergi ke kamar kecil, merasa cemas dan membutuhkan udara segar, ingin menghindari bertemu Andi di pintu, dan sebagainya. Dengan adanya alternatif ini, sangat mungkin bahwa Andi (atau orang lain dalam situasinya) merasa tidak pasti bagaimana menginterpretasikan perilaku Sarah.
2.             Ketidakpastian merupakan keadaan yang tidak mengenakkan.
Hal ini sama seperti yang biasanya dirasakan orang ketika berada di lingkungan kerja yang baru, mereka sering kali mengalami stres jenis ini. Sehingga, untuk berada di dalam ketidakpastian membutuhkan energi emosional dan psikologis yang tidak sedikit.
3.             Ketika orang asing bertemu, perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka, atau meningkatkan prediktabilitas.
Untuk mengurangi ketidakpastian orang akan mencari informasi dengan mengajukan pertanyaan yang bertujuan untuk memperoleh prekdibilitas.
Misalnya, politikus yang sering kali bertanya ketika abertemu dengan konstituennya. Mereka mengahabiskan waktu dengan para pemberi suara di distrik mereka dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui kebutuhan mereka.
4.             Komunikasi interpersonal adalah sebuah proses perkembangan yang terjadi melalui tahapan-tahapan.
Terdapat tiga tahapan dalam komunikasi interpersonal: (1) fase awal (entry phase): tahap awal interaksi antara orang asing, seperti membalas sapaan ketika orang mengatakan, “Hai! Apa kabar?”; (2) fase personal: tahap di mana partisipan mulai berkomunikasi dengan lebih spontan dan membuka lebih banyak informasi pribadinya. Fase ini dapat terjadi dalam perjumpaan awal, tetapi biasanya lebih banyak terjadi setelah dilakukan beberapa interaksi; (3) fase akhir (exit phase), tahap di mana individu membuat keputusan, apakah interaksi dalam suatu hubungan tersebut dilajut atau dihentikan.
5.             Komunikasi interpersonal adalah alat yang utama untuk mengurangi ketidakpastian.
Karena dalam komunikasi interpersonal mensyaratkan beberapa kondisi, yaitu kemampuan mendengar, tanda respons nonverbal, dan bahasa yang sama. Jika hal tersebut tidak terpenuhi, maka akan mempengaruhi proses pengurangan ketidakpastian serta pengembangan hubungan.[3]
C.           Strategi untuk Mengurangi Ketidakpastian
Asumsi umum yang digunakan di sini adalah bahwa komunikasi merupakan proses bertahan (gradual) dimana orang salinh mengurangi ketidakpastian tentang yang lain. Dengan tiap-tiap interaksi anda semakin mengenal pihak lain dan secara berangsur-angsur mulai mengenal orang itu pada tingkat yang lebih bermakna. Charles Berger dan James Bradac mengidentifikasi tiga strategi utama untuk mengurangi ketidakpastian yaitu strategi pasif, aktif dan interaktif.
1.             Strategi Pasif
Bila kita mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati, kita menerapkan strategi pasif. Yang paling bermanfaat dalam observasi pasif ini adalah mengamati seseorang dalam tugas aktif tertentu, misalnya dalam interaksinya dengan orang lain dalam situasi sosial informal.
2.             Strategi Aktif
Bila anda secara aktif mencari informasi tentang seseorang dengan cara apapun selain berinteraksi dengan orang itu, anda menerapkan strategi aktif. Sebagai contoh, anda dapat bertanya kepada orang lain tentang orang itu. Kita juga memanipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga kita dapat mengamati seseorang secara lebih spesifik dan jelas. Wawancara lamaran pekerjaan, menonton teater, atau mengajar mahasiswa merupakan contoh-contoh cara dimana orang memanipulasi situasi untuk melihat bagaimana seseorang mungkin beraksi dan bereaksi.
3.             Strategi Interaktif
Bila kita sendiri berinteraksi dengan seseorang, kita menerapkan strategi interaktif. Sebagai contoh, kita dapat mengajukan pertanyaan (“Apakah anda senag berolahraga?” “Bagaimana pendapat anda mengenai mata kuliah ilmu komputer itu?” “Apa yang akan anda lakukan jika dipecat?”)
Kita juga mendapatkan pengetahuan tentang orang lain dengan mengungkapkan informasi tentang diri kita sendiri. Pengungkapan diri menciptakan lingkungan yang santai yang mendorong pengungkapan dan orang yang ingin lebih kita kenal.
Ketiga strategi ini bermanfaat untuk mengurangi ketidakpastian. Sayangnya banyak orang merasa bahwa mereka sudah cukup mengenal seseorang setelah menerapkan hanya strategi pasif. Strategi aktif lebih bersifat mengungkapkan, dan strategi interaktif lebih banyak lagi mengungkapkan. Menerapkan ketiga macam strategi ini akan membuat persepsi anda seakurat mungkin.[4]


DAFTAR PUSTAKA

West, Richard, dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Devito, Josep A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Profesional Book.



[1] Richard West , dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika. Hal. 173-176.
[2] Richard West , dan Lynn H. Turner. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Hal. 173.
[3] Richard West , dan Lynn H. Turner. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Hal. 176-179.
[4] Devito, Josep A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Profesional Book. Hal. 84-85.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar