Rabu, 06 Februari 2013

Analisis Teks Media


BAB I
ANALISIS TEKS MEDIA
A.           Pengertian
Teks adalah segala yang tertulis, segala yang dituturkan (wacana). Teks adalah fiksasi atau pelembagaan sebuah peristiwa wacana lisan dalam bentuk tulisan. Teks juga berarti seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu dan dengan kode-kode tertentu.
Analisis isi menurut Barelson merupakan suatu teknik penelitian untuk menguraikan isi komunikasi yang jelas secara obyektif, sistematis, dan kuantitatif. Sedang menurut Holsti merupakan teknik penelitian yang ditujukan untuk membuat kesimpulan dengan cara mengidentifikasi karakteristik tertentu pada pesan-pesan secara sistematik dan obyektif. Analisis isi teks media adalah memahami isi (content) yang terkandung dalam teks media.
B.            Tujuan Analisis Teks Media
Tujuan dari analisis isi teks media, adalah untuk memahami isi (content) apa yang terkandung dalam isi dokumen. Dalam hal ini, yang dianalisis adalah semua dokumen bak cetak maupun visual (surat kabar, radio, televisi, grafiti, iklan, film, surat pribadi, buku, kitab suci, dan selebaran).
C.           Dua Aliran dalam Analisis Isi
1.             Aliran Transmisi
Aliran yang melihat komunikasi sebagai bentuk pengiriman pesan dengan prosesny ayng dilihat secara liniar dar pengirim ke penerima. Kemudian, asumsi yang dihasilkan adalah adanya hubungan satu arah dari media kepada khalayak, di mana yang satu aktif, sedang lainnya pasif. Oleh karena itu, aliran transmisi adalah aliran yang hanya menghasilkan pesan.
2.             Aliran Produksi dan Pertukaran Makna
Aliran yang melihat komunikasi sebagai proses penyebaran pesan (pengirim dan penerima). Kemudian asumsinya adalah masing-masing pihak dalam komunikasi saling memproduksi dan mempertukarkan makna, tidak ada pesan statis, dan pesan dibentuk secara bersama-sama. Oleh karena itu, aliran ini mampu menghasilkan makna.
D.           Desain Proposal Penelitian Analisis Isi Teks Media
Analisis Isi Kuantitatif
Analisis Isi Kualitatif
A.  Latar Belakang Masalah
B.  Rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Manfaat Penelitian
E.   Kajian Hasil Peneitian Terdahulu
F.   Definisi Operasional
G.  Kerangka Teori dan Hipotesis
H.  Metode Penelitian
1.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
2.    Unit Analisis
3.    Teknik Sampling
4.    Variabel dan Indikator Penelitian
5.    Teknik Pengumpulan Data
6.    Teknik Analisis Data
I.     Sistematika Pembahasan
J.     Jadwal Penelitian
A.  Konteks Penelitian
B.  Fokus Penelitian
C.  Tujuan Penelitian
D.  Manfaat Penelitian
E.   Kajian Hasil Penelitian Terdahulu
F.   Definisi Konsep
G.  Kerangka Pikir Penelitian
H.  Metode Penelitian
1.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
2.    Unit Analisis
3.    Jenis dan Sumber Data
4.    Tahapan Penelitian
5.    Teknik Pengumpulan Data
6.    Teknik Analisis Data
I.     Sistematika Pembahasan
J.     Jadwal Penelitian

E.            Desain Laporan Analisis Teks Media
Analisis Isi Kuantitatif
Analisis Isi Kualitatif
BAGIAN PEMBUKAAN
Judul Penelitian (Sampul Dalam)
Pernyataan Keaslian Karya
Persetujuan Pembimbing
Pengesahan Tim Penguji
Metode dan Persembahan
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Isis
Daftar Tabel (Jika Ada)
Daftar Gambar (Jika Ada)
Daftar Grafik (Jika Ada)
BAGIAN INTI (ISI)

BAB I: PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
B.  Rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Manfaat Penelitian
E.   Kajian Hasil Peneitian Terdahulu
F.   Definisi Operasional
G.  Kerangka Teori dan Hipotesis
H.  Metode Penelitian
  1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
  2. Unit Analisis
  3. Teknik Sampling
  4. Variabel dan Indikator Penelitian
  5. Teknik Pengumpulan Data
  6. Teknik Analisis Data
I.     Sistematika Pembahasan
J.     Jadwal Penelitian

BAB II: KAJIAN TEORETIS
A.  Kajian Pustaka
B.  Kajian Teori

BAB III: PENYAJIAN DATA
A.  Deskripsi Obyek Penelitian
B.  Deskripsi Data Penelitian

BAB IV: ANALISIS DATA
A.  Pengujian Data
B.  Pembahasan Hasil Penelitian

BAB V: PENUTUP
A.  Simpulan
B.  Rekomendasi

BAGIAN AKHIR (LAMPIRAN)
Daftar Pustaka
Biodata Penulis
Alat-Alat Pengumpulan Data
Surat-Surat Keterangan
Foto-Foto
Dan Lain-Lain
BAGIAN PEMBUKAAN
Judul Penelitian (Sampul Dalam)
Pernyataan Keaslian Karya
Persetujuan Pembimbing
Pengesahan Tim Penguji
Metode dan Persembahan
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Isis
Daftar Tabel (Jika Ada)
Daftar Gambar (Jika Ada)
Daftar Grafik (Jika Ada)
BAGIAN INTI (ISI)

BAB I: PENDAHULUAN
A.  Konteks Penelitian
B.  Fokus Penelitian
C.  Tujuan Penelitian
D.  Manfaat Penelitian
E.   Kajian Hasil Penelitian Terdahulu
F.   Definisi Konsep
G.  Kerangka Pikir Penelitian
H.  Metode Penelitian
1.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
2.    Unit Analisis
3.    Jenis dan Sumber Data
4.    Tahapan Penelitian
5.    Teknik Pengumpulan Data
6.    Teknik Analisis Data
I.     Sistematika Pembahasan
J.     Jadwal Penelitian

BAB II: KAJIAN TEORETIS
A.  Kajian Pustaka
B.  Kajian Teori

BAB III: PENYAJIAN DATA
A.  Deskripsi Subyek Penelitian
B.  Deskripsi Data Penelitian

BAB IV: ANALISIS DATA
A.  Temuan Penelitian
B.  Konfirmasi Temuan dengan teori

BAB V: PENUTUP
A.  Simpulan
B.  Rekomendasi

BAGIAN AKHIR (LAMPIRAN)
Daftar Pustaka
Biodata Penulis
Alat-Alat Pengumpulan Data
Surat-Surat Keterangan
Foto-Foto
Dan Lain-Lain

F.            Obyek Penelitian Analisis Teks Media
Yang menjadi obyek dalam analisis teks media adalah isi media cetak maupun elektronik (surat kabar, radio, film, dan televisi), yang terdapat dalam semua konteks komunikasi (Komunikasi Antar Pribadi, Kelompok, Organisasi, Lintas Budaya, dll), dengan syarat ada dokumen yang tersedia.



G.           Pendekatan Analisis Isi
1.             Analisis Isi Deskriptif
Pendekatan analisis yang hanya menggambarkan aspek-aspek dan karakteristik suatu pesan atau suatu teks tertentu. Misalnya, pnelitian analisis isi tentang kandungan kekerasan dalam program acara anak-anak di televisi. Untuk contoh ini, cukup digambarkan jam tayang, jumlah kekerasan, jenis-jenis kekerasan (verbal/visual), tema cerita, dan/atau pemeran kekerasan laki-laki/wanita.
2.             Analisis Isi Eksplanatif
Pendekatan analisis yang tidak hanya menggambarkan, tetapi juga mencoba mencari hubungan antara isi pesan dengan variabel lain yang terkait. Misalnya, penelitian analisis isi tentang kandungan kekerasan dalam program acara anak-anak di televisi. Dalam desain ini tidak hanya menggambarkan sebagaimana penelitian deskriptif, namun mencoba membuat hubungan antara isi pesan dengan variabel lain, misalnya: keterkaitan antara isi pesan dan asal program acara anak-anak (lokal/luar negeri).
3.             Analisis Isi Prediktif
Pendekatan analisis yang berusaha memprediksi hasil seperti tertangkap dalam analisis isi dengan variabel lain. Misalnya, penelitian analisis isi tentang kandungan kekerasan dalam program acara anak-anak di televisi dapat memprediksikan apakah dengan bentuk dan jenis kekerasan ini dapat berdampak pada sikap agresi anak. Di sini peneliti harus menggunakan dua cara, (1) Data analisis isi yang menggambarkan bentuk dan jenis kekerasan, (2) Data hasil penelitian lain (survei dan eksperimen) yang memperlihatkan tingkat agresi pada anak-anak.
H.           Unit Analisis
Unit analisis adalah apa yang diobservasi, dicatat, dianggap sebagai data, memisahkan menurut batas-batasnya dan mengidentifikasi untuk analisis berikutnya.
Jenis-jenis unit analisis:
·                Unit Sampel (Sampling Unit): bagian dari obyek yang dipilih (diseleksi) oleh peneliti untuk didalami. Misal, penelitian tentang relasi gender dalam buku novel remaja yang terbit pascareformasi. Unit sampel ini secara tegas hanya akan meneliti novel remaja (misal, pengarangnya remaja) dan bukan novel yang lain. Peneliti juga tegas bahwa terbitan novel adalah pasca reformasi.
·                Unit Pencatatan (Recording Unit): bagian atau aspek dari isi yang menjadi dasar dalam pencatatan dan analisis. Sebuat berita di media cetak terdiria tas kata, kalimat, gambar. Sinetron/film terdiri atas karakter, sudut pengambilan gambar, tata cahaya, jalan cerita, dan pengadegan. Di sini peneliti harus memilih bagian mana yang dicatat.
·                Unit Konteks (Context Unit): konteks apa yang diberikan oleh peneliti untuk memahami atau memberi arti pada hasil pencatatan. Misal, jika peneliti ingin mengetahui status sosial ekonomi dalam karakter di cerita televisi. Peneliti akan mencatat berupa pakaian, cara berbicara, perhiasan yang digunakan, dan bentuk tubuh. Aspek yang dicatat (pakaian, cara berbicara, dll) harus diberi konteks tertentu sebagai status sosial ekonomi. Misal, karakter yang pakaiannya bagus, cara bicara runtut dan banyak mengadopsi bahasa asing dan memakai perhiasan dikategorikan sebagai karakter dari kalangan atas.
·                Unit Fisik (Physical Units): unit pencatatan yang didasarkan pada ukuran fisik suatu teks. Bentuk ukuran fisik sangat tergantung pada jenis teks. Misal: Televisi, ukuran fisik dapat berupa waktu (durasi). Media cetak, ukuran fisik merupakan luas/panjang berita.
·                Unit Sintaksis (Syntactical Units): unit analisis yang menggunakan elemen atau bagian bahasa tertulis (berita, iklan baris, novel, buku pelajaran, kitab suci). Unit bahasa dapat berupa kata, ayat, kalimat, dan anak kalimat. Untuk bahasa gambar (film, sinetron TV, film kartun, dan iklan TV). Bahasa ini dapat berupa potongan adegan (scene) dan sebagainya. Misal, penelitian tentang terorisme dalam berta surat kabar di Indonesia. Peneliti menghitung berapa banyak kata “terorisme” atau “teror” muncul dalam berita surat kabar. Berapa banyak tokoh-tokoh teroris (Noordin M. Top. Dll) disebut dalam berita.
·                Unit Referensial (Referensial Units): unit ini merupakan perluasan dari unit sintaksis, di mana kata-kata yang mirip, sepadan, atau punya arti dan maksud yang sama di catat sebagai satu kesatuan. Misal, penyebutan berita surat kabar tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemungkinan ditulis dengan kata-kata yang berbeda, seperti: Presiden RI, Susilo Bambang Yodhoyono, Presiden SBY, Presiden Yudhoyono, atau Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Jika menggunakan unit sintaksis, semua kata ini harus dipisah dan harus dihitung sebagai kata yang berbeda. Sementara dalam unit referensial kata-kata yang sepadan ini dihitung sebagai satu kesatuan.
·                Unit Proposisional (Propotitional Units): unit analisis yang menggunakan pernyataan (proposisi). Peneliti menghubungkan dan mempertautkan satu kalimat dan kalimat lain dan menyimpulkan pernyataan (proposisi) yang terbentuk dari rangkaian antar kalimat ini. Misal, peneliti mengkaji mengenal teks selebaran yang mengusulkan adanya revisi terhadap UU Perkawinan. Dlam selebaran ini, misalnya terdapat kalimat; (1) Poligami adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Poligami memiskinkan dan merendahkan martabat perempuan; (2) Undang-Undang Perkawinan tidak secara tegas menolak atau melarang praktek poligami. Dari dua kalimat ini dapat dibuat pernyataan atau proposisi, bahwa Undang-Undang Perkawinan harus direvisis karena tidak secara tegas melarang praktek poligami.
·                Unit Tematik (Thematik Units): unit analisis yang lebih melihat tema (topik) pembicaraan dari suatu teks. Misal, jika meneliti tentang iklan, menggunakan unit tematik lebih fokus kepada iklan ini yang berbicara mengenai apa atau apa yang ingin disampaikan melalui iklan.

I.              Sampling dalam Analisis Isi
Proses penarikan sampel:
1.             Populasi: Semua anggota dari obyek yang ingin diketahui isinya.
2.             Pospulasi Sasaran: Konsep yang abstrak, harus didefinisikan secara jelas agar anggota populasi dapat ditentukan secara cermat.
3.             Kerangka Sampel: daftar nama semua anggota populasi yang akan dipakai dalam penelitian. Jika populasi sasarannya berita kriminalitas di Patroli Indosiar selama tahun 2008, maka kerangka sampelnya adalah semua daftar berita kriminalitas di acara Patroli Indosiar selama 2008. Kerangka sampel merupakan dasar penarikan sampel. Terutama dengan menggunakan probabilitas/random.
4.             Sampel: Sampel diambil dari daftar anggota populasi dalam kerangka sampel.
Jenis penarikan sampel:
1.             Penarikan sampel acak: teknik penarikan sampel yang menggunakan hukum probabilitas, di mana memberi kesempatan atau peluang yang sama kepada anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel. Teknik ini menghasilkan generalisasi (kesimpulan). Syaratnya, harus ada kerangka sampel.
·                Sampel acak sederhana, yakni dengan melakukan undian, arisan, dll. Langkah-langkahnya: 1) menyusun kerangka sampel, 2) menyusun daftar sampel, 3) membat dan menggunakan angka acak, 4) peneliti dengan menggunakan lembar angka acak memilih sampel.
·                Sampel acak sistematis, sampel yang hampir mirip dengan acak sederhana, hanya yang membedakan adalah, sampelnya dipilih secara sistematis. Jadi yang perlu diacak adalah sampel pertama saja, selanjutnya kedua, ketiga, dst diambil secara sistematis. Langkah-langkahnya: 1) menyusun kerangka sampel, 2) menyusun daftar sampel, 3) menentukan interval sampel, 4) memilih sampel.
·                Sampel acak stratifikasi, sampel ini tidak langsung menarik sampel dari kerangka sampel. Peneliti terlebih dahulu membagi (membuat stratifikasi) populasi. Kerangka sampel dibuat berdasarkan stratifikasi, kemudian sampel baru diambil. Dengan cara ini sampel lebih mencerminkan keragaman dari populasi. Langkah-langkahnya: 1) menentukan kategori stratifikasi, 2) membuat proporsi populasi berdasar strata yang ditentukan, 3) kerangka sampel harus disusun berdasar kartegori srata yang telah ditentukan, 4) sampel diambil dari kerangka sampel.
·                Sampel acak bertahap, sampel dengan teknik penarikannya yang dilakukan secara bertingkat sebelum sampel ditemukan. Langkah-langkahnya: 1) peneliti memilih cluster (gugus), di mana kerangka sampel diperoleh, 2) menarik bagian yang lebih kecil dari cluster, 3) menarik bagian sampel yang lebih kecil lagi, dan seterusnya sampai memperoleh sampel yang terkecil.
2.             Penarikan sampel non acak: teknik penarikan sampel yang tidak menggunakan hukum probabilitas. Anggota populasi tidak memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Sampel terpilih berdasarkan unsur subyektivitas peneliti. Teknik ini tidak bisa digunakan untuk generalisasi kesimpulan, karena tidak mencerminkan kondisi sampel.
·                Sampel sembarang, teknik pengambilan sampel ini memperbolehkan peneliti memilih sampel apapun, asalkan sesuai dengan populasi sasaran yang telah ditentukan. Teknik ini dapat digunakan dalam dua kondisi: 1) kerangka sampel tidak dapat disusun akibat ada bagian teks yang hilang atau tidak ada dokumentasinya, 2) kerangka sampel mungkin saja disusun, tetapi untuk menyusunnya dibutuhkan waktu yang panjang.
·                Sampel purposif, dalam teknik sampel yang ini, peneliti sengaja memilih sampel atau periode tertentu atas dasar pertimbangan ilmiah, yang kuat dari peneliti. Dua hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan pearikan sampel ini: 1) tujuan penelitian, 2) pemiliham teks atau periode secara purposif harus dipertimbangkan secara ilmiah.
·                Sampel Kuota, yakni penarikan sampel dengan memberikan batasan dan jumlah (kuota) agar keragaman dari populasi bisa didapat yaitu dengan memberikan persyaratan tertentu sebelum sampel diambil. Dua tahapan dalam sampel ini: 1) peneliti membuat matriks kuota. Matriks sendiri merupakan sebaran dari sampel yang diinginkan, 2) peneliti menentukan sampel berdasarkan kategori yang telah ditentukan.
Dalam menentukan jumlah sampel, ada empat aspek yang menentukan besar kecilnya jumlah sampel dalam suatu survei, yaitu:
1.             Jumlah populasi. Jumlah sampel ditentukan jumlah populasi. Populasi yang besar menuntut jumlah sampel yang besar pula.
2.             Keragaman populasi. Populasi yang kompleks dan beragam membutuhkan jumlah yang besar, agar keragam populasi terwakili dalam sampel, sebaliknya populasi yang homogen relatif membutuhkan jumlah sampel yang lebih kecil.
3.             Tingkat kesalahan yang ditoleransi. Peneliti harus terlebih dahulu menentukan berapa tingkat kesalahan yang dikehendaki dari survei yang akan dilakukan.
4.             Tingkat kepercayaan. Tingkat kepercayaan berhubungan dengan seberapa besar taksiran atau estimasi dari sampel beralaku untuk populasi, seberapa besar tingkat jaminan hasil penelitian.

BAB II
MENYUSUN PROPOSAL ANALISIS TEKS MEDIA (KUANTITATIF)
Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyusun proposal analisis teks media untuk pendekatan kuantitatif.
Analisis Isi Kuantitatif
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan Penelitian
D.    Manfaat Penelitian
E.     Kajian Hasil Peneitian Terdahulu
F.      Definisi Operasional
G.    Kerangka Teori dan Hipotesis
H.    Metode Penelitian
1.      Pendekatan dan Jenis Penelitian
2.      Unit Analisis
3.      Teknik Sampling
4.      Variabel dan Indikator Penelitian
5.      Teknik Pengumpulan Data
6.      Teknik Analisis Data
I.        Sistematika Pembahasan
J.        Jadwal Penelitian

A.           Latar Belakang Masalah
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membuat latar belakang masalah adalah sebagai berikut:
·                Deskripsikan fenomena yang terjadi di lapangan yang menunjukkan adanya makna, perilaku, tindakan dan konteks kehidupan manusia dalam perspektif komunikasi melalui media cetak maupun elektronik
·                Fenomena yang terjadi harus menarik dan unik serta penting untuk diteliti.
·                Teori yang digunakan hanya sekedar sebagai acuan, pendukung, dan mengarahkan fokus penelitian.
·                Jelaskan pula apa kaitannya dengan disiplin keilmuan komunikasi.
·                Tentukan fokus dan lokus penelitian yang akan dilakukan.
B.            Rumusan Masalah
·                Buat sebuah rumusan masalah terkait dengan tujuan penelitian, apa yang dicari dalam penelitian tersebut.
·                Menggunakan karakteristik pesan (menjawab: what, how, to whom), menarik kesimpulan penyebab dari  suatu pesan (menjawab: why, what with effect)
·                Tujuan penelitian menggunakan metode yang digunakan (deskriptif, eksplanatif, prediktif). Misal, bagaimana kandungan kekerasan dalam program acara anak-anak di televisi? (deskriptif).
C.           Tujuan Penelitian
·                Tujuan penelitian disesuaikan dengan paradigmanya (positivisme/kuantitatif) yaitu berupa kalimat “untuk mengetahui dan menjelaskan ............” (sesuai dengan rumusan masalah yang dibuat).
·                Memiliki relevansi dengan fokus kajian.
D.           Manfaat Penelitian
·                Mampu menunjukkan untuk apa penelitian dilakukan serta menjelaskannya secara konkrit.
·                Manfaat penelitian dibuat dalam dua kategori, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis berhubungan dengan pengembangan disiplin keilmuan yang sedang diteliti, sedang manfaat praktis berhubungan dengan aspek praktis yang dapat dilakukan dari hasil penelitian.
E.            Kajian Hasil Penelitian Terdahulu
·                Untuk menunjukkan orisinalitas karya ilmiah yang dilakukan harus ditunjang pencarian penelitian terdahulu yang memiliki substansi sejenis namun dapat digunakan sekaligus untuk membedakan antara penelitian yang sudah pernah ada.
·                Kajian ini mencakup; penulis/pengarang, lembaga/instansi, tahun, judul, fokus penelitian, hasil penelitian, perbandingan dan persamaannya.
F.            Definisi Operasional/Konsep
·                Petakan konsep yang ada sesuai dengan tema atau judul penelitian, kemudian definisikan secara operasional konsep-konsep dalam penelitian tersebut. Misal, judul penelitian Kandungan kekerasan dalam Program Acara Anak-Anak di Televisi.
·                Konsep kunci dalam penelitian ini adalah Kandungan Kekerasan dan Program Acara Anak-Anak di Televisi.
·                Di sini peneliti bisa mendefinisikan satu persatu konsep yang digunakan dalam penelitian ini. Misal, apa itu kandungan, kekerasan, dll. Namun yang lebih penting adalah sefinisi tentang konsep kandungan kekerasan yang dimaksud dalam penelitian ini apa?
G.           Kerangka Teori dan Hipotesis
·                Berisi pandangan teori-teori yang dapat mendukung (dan bahkan dapat diuji) dan memfokuskan masalah penelitian.
·                Membuat alur berpikir teoritis atau kerangka pemikiran sesuai dengan tema penelitian
·                Ada referensi teoritik yang dapat digunakan sebagai perspektif untuk memahami atau menjelaskan.
·                Menunjukkan keberpihakan peneliti terhadap perspektif yang dipakai dalam penelitian.
·                Dapat digunakan sebagai pembanding analisis yang dilakukan.
H.           Metode Penelitian
1.             Pendekatan dan Jenis Penelitian
·                Pendekatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendekatan yang dibuat berdasarkan paradigma penelitian yang digunakan (kuantitatif).
·                Jenis penelitian disesuaikan dengan fenomena yang ada dan tujuan penelitian yang diinginkan. Dapat berupa penelitian deskriptif, eksplanatif, dan juga prediktif.
2.             Unit Analisis
·                Berisi tentang apa yang diobservasi, dicatat, dan dianggap sebagai data, memisahkan menurut batas-batasnya dan mengidentifikasi untuk analisis berikutnya.
·                Misal, penelitian tentang kandungan kekerasan dalam film kartun. Bagian apa yang diteliti untuk mengetahui besarnya kandungan kekerasan. Apakah yang dilihat adalah karakternya (tokoh), adegannya, cerita, dan penyelesaian masalah. Bagian “apa” dari kartun inilah yang disebut sebagai unit analisis.
·                Jenis unit analisis: Unit Sampel, Unit Pencatatan (Fisik, Sintaksis, Referensial, Proporsional, Tematik), Unit Konteks.
3.             Teknik Sampling
·                Idealnya, analisis isi memasukkan semua berita (populasi).
·                Sensus: peneliti meneliti semua anggota populasi.
·                Tetapi tetap ada kebebasan pada peneliti untuk menggunakan sampel karena alasan-alasan tertentu.
·                Sensus sendiri umumnya digunakan jika topiknya spesifik. Misal, membuat anlisis isi terhadap lirik-lirik lagu Koes Ploes, maka sampelnya dalah semua lagu Koes Ploes.
4.             Variabel dan Indikator Variabel
·                Variabel adalah konsep konkrt yang dapat dioperasionalkan secara empirik atau konstruk yang sifat-sifatnya sudah diberi nilai dalam bentuk bilangan.
·                Indikator variabel adalah sub variabel yang dikonkritkan sebagai bentuk ukuran variabel yang ditentukan.
·                Misal, penelitian analisis isi tentang kandungan kekerasan dalam program acara anak-anak di televisi. Konsep/variabelnya adalah kandungan kekerasan dan program acara anak-anak di televisi.
·                Indikator variabelnya yang dapat berupa: jam tayang, jumlah kekerasan, jenis-jenis kekerasan (verbal/visual), tema cerita, pemeran kekerasan laki-laki atau wanita.
5.             Teknik Pengumpulan Data
·                Dokumentasi teks media wajib ada.
·                Kemudian membuat lembar coding, yakni alat yang dipakai untuk menghitung atau mengukur aspek tertentu dari isi media.
·                Kategori yang dipakai dalam analisis isi disajikan dalam sebuah lembar yang disebut sebagai lembar coding yang memuat aspek-aspek apa saja yang ingin dilihat dalam analisis isi.
·                Lembar coding di sini dapat disejajarkan dengan kuesioner/angket dalam penelitian survei
6.             Teknik Analisis Data
·                Menggunakan rumus statistik sebagai alat untuk menganalisis data.
·                Analisis isi deskriptif menggunakan statistik deskriptif. Analisis isi eksplanatif menggunakan pengujian hipotesis univariat (hubungan diantara variabel; uji hubungan), dan perbedaan variabel variabel; uji perbedaan. Analisis isi prediktif menggunakan uji prediksi (regresi).
7.             Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan ditulis berdasarkan urutan dan sistematika yang akan dibahas dalam penelitian secara detail, mulai dari bab I sampai akhir.
8.             Jadwal Penelitian

BAB III
MODEL ANALISIS WACANA KRITIS DALAM PENELITIAN KOMUNIKASI
A.           Pengertian Analisis Wacana
Analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Analisis wacana merupakan alternatif dari analisis isi dengan pendekatan kuantitatif yang lebih menekankan ada pertanyaan “apa”, analisis wacana lebih melihat pada “bagaimana” dari sebuah pesan atau teks komunikasi. Dengan melihat bagaimana bangunan struktur kebahasaan tersebut, analisis wacana dapat melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks.
Analisis wacana dapat dikategorikan dalam paradigma penelitian kritis, yaitu suatu paradigma berpikir yang melihat pesan sebagai pertarungan kekuasaan, sehingga teks berita dipandang sebagai bentuk dominasi dan hegemoni satu kelompok kepada kelompok yang lain. Paradigma kritis juga memandang bahwa media bukanlah saluran yang bebas dan netral. Media justru dimiliki oleh kelompok tertentu dan digunakan untuk mendominasi kelompok minoritas atau kelompok yang tidak dominan.
B.            Analisis Wacana Van Dijk
Van Dijk menjelaskan bahwa proses produksi teks melibatkan kognisi sosial. Artinya sebuah teks tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk dan dipengaruhi oleh struktur sosial, dominasi kelompok tertentu, dan kelompok kekuasaan dalam masyarakat dan bagaimana kognisi (pikiran) dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap teks tersebut. Wacana digambarkan oleh Van Dijk mempunyai tiga dimensi, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Ketiga dimensi ini tidak berdiri sendiri, melainkan satu sistem dan satu kesatuan dalam analisis.
1.             Teks adalah fiksasi atau pelembagaan sebuah peristiwa wacana lisan dalam bentuk tulisan. Teks juga berarti seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu dan dengan kode-kode tertentu. Dalam teks yang dipelajari adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang digunakan untuk menegaskan suatu tema tertentu.
2.             Kognisi sosial, amatlah penting bagi pemahaman sebuah teks berita. Bila seorang wartawan menulis sebuah berita, maka berita hasil tulisannya tersebut tidaklah berdiri sendiri, karena apa yang dihasilkan tersebut merupakan suatu kesatuan kognisi sosial di mana komponen atau elemen di sekitarnya juag ikut andil dalam karya tulisan atau berita tersebut. Kognisi sosial mempelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari seorang wartawan.
3.             Dalam analisis wacana yang menjadi titik utamanya adalah menggambarkan teks dan konteks secara bersamaan dalam suatu proses komunikasi. Bahasa selalu berada dalam konteks, dan tidak ada tindakan komunikasi tanpa partisispan, interteks, situasi, dan sebagainya. Analisis tentang teks dan konteks secara umum sudah ada pada tataran analisis kognisi sosial yang mengandung makna tersirat tentang teks dan konteks. Kontek sosial mempelajari tentang bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat.

BAB IV
ANALISIS SEMIOTIK DALAM PENELITIAN KOMUNIKASI
A.           Pengertian Semiotika
Menurut Littlejhon ada tiga masalah yang hendak diulas dalam analisis semiotik. Pertama, masalah makna. Bagaimana orang memahamipesan? Informasi apa yang dikandung dalam struktur sebuah pesan? Kedua, masalah tindakan. Atau pengetahuan tentang bagaimana memperoleh sesuatu melalui pembicaraan. Ketiga, masalah koherensi. Yang menggambarkan bagaimana membentuk suatu pola pembicaraan masuk akal dan dapat dimengerti.
Semiotik berusaha memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan tanda. Ilmu ini juga mempelajari hakekat tentang keberadaan suatu tanda. Tanda adalah sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lainnya.
Menurut jhon Fiske terdapat area penting dalam studi semiotika, yaitu: (1) tanda itu sendiri. Berkaitan dengan tanda yang beragam. Tanda buatan manusia yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang menggunakannya; (2) kode atau sistem di mana lambang-lambang disusun; (3) kebudayaan di mana kode/lambang beroperasi.
Semiotik digunakan sebagai pendekatan untuk menganalisis teks media dengan asumsi bahwa media itu sendiri dikomunikasikan melalui seperangkat tanda. Teks media yang tersusun atas seperangkat tanda tersebut tidak pernah membawa makna tunggal.
B.            Aliran-Aliran dalam Semiotika
Terdapat tiga aliran dalam semiotika, yaitu:
·                Aliran semiotik konotasi yang dipelopori oleh Roland Barthes, yakni aliran yang pada waktu menelaah sistem tanda tidak berpegang pada makna primer, tetapi mereka berusaha mendapatkannya melalui makna konotasi.
·                Aliran semiotik ekspansionis yang dipelopori oleh Julia Kristeva, yakni aliran yang melaksanakan telaah menggunakan konsep yang terdapat di dalam linguistik ditambah dengan konsep yang berlaku dalam psikoanalisis dan sosiologi.
·                Aliran behavioris yang dipelopori oleh Charles Morris, yakni aliran yang mengembangkan teori semiotik dengan jalan memanfaatkan pandangan yang berlaku dalam psikologi (skinner). Kaum behavioris dalam linguistik membahas bahasa sebagai siklus stimuli, respon yang jika ditelaah dari segi semiotik adalah persoalan sistem tanda yang berproses pada pengiriman dan penerima.
C.           Macam-Macam Semiotika
Terdapat sembilan macam jenis telaah semiotik, yaitu:
·                Semiotik analitik, yakni semiotik yang menganalisis sistem tanda. Menurut Pierce semiotik berobyekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, obyek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada objek tertentu.
·                Semiotik deskriptif, yakni semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang (mundung-hujan).
·                Semiotik faunal, yakni semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan.
·                Semiotik kultural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu.
·                Semiotik naratif, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan.
·                Semiotik natural, yakni semiotik yang khusus  menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam.
·                Semiotik normatif, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud lambang, baik berwujud kata maupun kalimat (bahasa).
·                Semiotik struktural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.
D.           Semiotik Model Charles Sander Pierce
Menurut Pierce, salah satu bentuk tanda adalah kata. Objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sedangkan interpretan adalah tanda yanga da dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Apabila ketiga elemen makna ini berinteraksi dalam benak seseorang, maka muncullah makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda tersebut. Model ini mengupas persoalan bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang pada waktu berkomunikasi.
E.            Semiotik Model Ferdinand de Saussure
Saussure meletakkan tanda dalam konteks komunikasi manusia dengan melakukan pemilihan antara signifier (penanda) dan signified (petanda). Signifier adalah bunyi yang bermakana atau coretan yang bermakna (aspek material) yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Signified adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep aspek mental dari bahasa. Kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep mental tersebut disebut dengan signification, yaitu upaya dalam memberi makna terhadap dunia.
Hubungan antara signifier dan signified ini terbagi menjadi tiga, yaitu: (1) ikon adalah tanda yang memunculkan kembali benda atau realitas yang ditandainya, misalnya foto atau peta.; (2) indeks adalah tanda yang kehadirannya menunjukkan adanya hubungan dengan yang ditandai, misalnya asap adalah indeks dari api; (3) simbol adalah sebuah tanda di mana hubungan antara signifier dan signified semata-mata adalah masalah konvensi, kesepakatan atau peraturan.
F.            Semiotik Model Roland Barthes
Roland Barthes membuat model sistematis dan menganalisis makana dari tanda-tanda. Fokus perhatiannya tertuju pada gagasan tentang signifikansi dua tahap. Jadi, signifikansi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari sebuah tanda.
Konotasi adalah istilah Barthes untuk menyebut signifikansi tahap kedua yang menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai nilai yang subyektif atau intersubyektif. Maka, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap subyek, sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya.

BAB IV
ANALISIS FRAMING DALAM PENELITIAN KOMUNIKASI
A.           Pengertian
Analisis framing merupakan upaya pengembangan dari analisis wacana. Dalam perspektif komunikasi, analisis framing digunakan untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti, atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Analisis framing juga merupakan pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan atau dihilangkan, serta hendak di bawa ke mana berita tersebut.
B.            Cara Melakukan Framing pada Berita
Framming dalam berita dapat dilakukan dengan empat cara, yakni sebagai berikut:
·                Pada identifikasi masalah, yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan dengan nilai positif atau negatif apa;
·                Pada identifikasi penyebab masalah, yaitu siapa yang dianggap penyebab masalah;
·                Pada evaluasi moral, yaitu penilaian atas penyebab masalah;
·                Saran penanggulangan masalah, yaitu menawarkan suatu cara penanganan masalah dan kadang kala memprediksikan hasilnya.
Ada tiga bagian berita yang dapat menjadi obyek framing seorang wartawan, yaitu sebagai berikut:
·                Judul berita, diframing dengan menggunakan teknik empati, yaitu menciptakan “pribadi khayal” dalam diri khalayak, sementara khalayak diangankan menempatkan diri mereka seperti korban kekerasan, sehingga mereka dapat merasakan kepedihan yang luar biasa.
·                Fokus berita, diframing dengan menggunakan teknik asosiasi, yaitu menggabungkan kebijakan aktual dengan fokus berita.
·                Penutup berita, diframing dengan menggunakan teknik packing, yaitu menjadikan khalayak tidak berdaya untuk menolak ajakan yang dikandung berita.
C.           Media Frames dan Individual Frames
Media frames telah didefinisikan bahwa framing berita berarti mengorganisasikan realita berita setiap hari. Framing juga mencirikan sebagai kerja jurnalis untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan informasi secara tepat dan menyampaikan secara cepat kepada para pembaca. Kegiatan framing merupakan kegiatan penyeleksian beberapa aspek dari ralitas dan membuatnya lebih penting dalam sebuat teks. Kegiatan framing, penyajian peristiwa dan berita mampu memberikan pengaruh yang sistematis tentang metode agar penerima berita mengerti.
Individual frames didefinisikan sebagai kegiatan penyimpanan ide yang membimbing proses informasi secara individu. Framing jenis ini dapat digunakan sebagai kegiatan interpretasi dan proses informasi.
D.           Model Proses Framing
·                Frame Building (Bangunan Framing)
Frame building meliputi kunci pertanyaan: faktor struktur dan organisasi  seperti apa yang mempengaruhi sistem media, atau karakteristik individu wartawan seperti apa yang mampu mempengaruhi penulisan sebuah berita terhadap peristiwa.
Ada tiga sumber pengaruh yang berpotensi dalam framing, yaitu: (1) pengaruh wartawan. Wartawan akan lebih sering membuat konstruksi analisis untuk membuat perasaan memiliki akan kedatangan informasi. Bentuk analisa wartawan dalam menulis sebuah fenomena sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel, seperti ideologi, perilaku, norma-norma profesional, dan akhirnya lebih mencirikan jalan wartawan dalam mengulas berita; (2) faktor berikutnya adalah pemilihan pendekatan yang digunakan wartawan dalam penulisan berita sebagai konsekuensi dari tipe dan orientasi politik, atau yang disebut sebagai “rutinitas organisasi”; (3) faktor ketiga adalah pengaruh dari sumber-sumber eksternal, misalnya aktor-aktor politik dan otoritas.
·                Frame Setting (Pengkondisian Framing)
Frame setting didasarkan pada proses identivikasi yang sangat penting. Frame setting ini termasuk salah satu aspek pengkondisian agenda (agenda setting). Agenda setting ini sendiri lebih menitikberatkan pada isu-isu yang menonjol/penting. Level pertama dari agenda setting adalah transmisi obyek yang penting, sedangkan tingkat kedua adalah transmisi atribut yang penting.
·                Individual-Level Effect of Framing (Tingkat Efek Framing terhadap Individu)
Tingkat pengaruh individual terhadap seseorang akan membentuk beberapa variabel perilaku, kebiasaan, dan variabel kognitif lainnya.
·                Journalist as Audience (Wartawan sebagai Pendengar)
Wartawan akan lebih cenderung untuk melakukan pemilihan konteks. Di sini, diharapkan wartawan dapat berperan sebagai orang yang mendengarkan analisa pembaca sehingga ada timbal balik ide. Akibatnya, analisa wartawan tidak serta merta dianggap paling benar dan tidak terdapat kelemahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar